MATAHARI tak bersahabat hari itu. Panas teriknya membanjiri kota seolah persis di atas kepala. Bercampur dengan asap knalpot dump truck berisi tanah galian yang debunya berterbangan menerpa wajah para pengendara. Membikin Srimulat terbatuk saat berhenti di lampu merah meski telah mengenakan masker wajah.
Ia telah membuat janji dengan Ester, perwakilan dari YPAI yang intens mengawal kasus Danu. Ester pula yang berhasil melobi pihak berwajib agar mau turun tangan mencari Danu—meski lamban dan tak Srimulat hiraukan.
Pagi tadi, setelah terbangun dengan keringat dingin karena bermimpi Danu dijual ke Kamboja, Srimulat lantas membuka media sosial dan berdoa agar tak ada kabar buruk pasal Danu. Ia mendapati satu pesan masuk, dengan nama anonim, yang mengaku mengetahui keberadaan Danu. Srimulat buru-buru menelepon Ester dan meminta kesediaannya untuk bertemu.
“Hari ini saya ada beberapa konseling, Mbak. Kayaknya nggak memungkinkan kalau saya ke sana. Mbak Sri bisa datang ke kantor, nggak?”
Srimulat langsung menyanggupi dan bersiap. Mengabaikan perutnya yang keroncongan. Melupakan mimpinya semalam. Mumpung hari ini tidak ada jadwal ke rumah majikan.
Ia tiba di kantor cabang YPAI dengan rambut lepek dan wajah lengket. Tanpa sempat membereskan tampilannya, Srimulat langsung masuk dan mengabari Ester.
“Saya sudah di lobi, Mbak.”
“OK. Masih ada 2 klien. Tunggu sebentar ya, sekalian nanti kita makan siang.”
Srimulat tidak membalas pesan itu. Ia membuka pesan dari media lain, pesan yang ia baca beberapa jam lalu. Pesan yang memberi secercah harapan baru kepadanya. Pesan yang ia baca berulang-ulang kali sembari menunggu Ester selesai menangani kliennya.
***