MENCARI BAPAK (novela)

Rizky Anna
Chapter #5

5

Mbak Sri, nanti sore/malam bisa ketemu? Saya sudah dapat beberapa video CCTV di sekitar terminal Terboyo. Mungkin Mbak Sri bisa mengidentifikasi anak-anak yang mirip Danu. Biar saya mampir ke rumah Mbak Sri, kebetulan mau kunjungan ke rumah klien yang deket situ.

Hati Srimulat mencelos membaca pesan itu. Betapa baik Ester yang tak punya hubungan darah maupun kerabat dengannya. Dan betapa ia semakin dekat dengan petunjuk keberadaan putranya—semoga.

Bisa Mbak, tapi kayaknya hari ini saya pulang agak malam. Mungkin sampai rumah jam 7-an.

Setelah memastikan pesannya terkirim, Srimulat memasukkan ponselnya ke saku depan celana. Bersamaan dengan itu, mesin juicer di hadapannya berhenti mengeluarkan sari dan serat buah yang tadi ia masukkan. Srimulat lantas menarik gelas penadah dan memasukkannya ke teko bening. Di sisi teko, tersusun gelas-gelas bening yang memenuhi penampan.

Segera ia membawa gelas-gelas dan teko berisi jus ke depan. Hari ini Bu Ratih, salah satu majikannya, ketempatan arisan keluarga. Ia yang biasanya dipanggil untuk bebersih dua atau tiga hari sekali—dan bisa pulang siang hari karena kerjanya gesit—kali ini harus stand by sehari penuh.

Ia harus membantu memasak, membersihkan ruang tamu, dan memastikan tidak ada piring kosong yang tersaji. Tiap ada piring yang hampir habis, Srimulat akan segera membawanya masuk dan diisi kembali. Ia juga diminta mencuci segala perkakas yang digunakan.

Srimulat sudah membuat satu kesalahan: telat bangun dan membiarkan Bu Ratih ke pasar sendiri. Meski Bu Ratih tidak mempermasalahkan itu—ia juga sering ke pasar untuk berburu kue basah, Srimulat tetap merasa bersalah dan merutuk dirinya sendiri. Maka, ia tidak mau membuat kesalahan lain, seperti menyiapkan kudapan terlalu lama, terpergok bermain ponsel saat bekerja, atau kesalahan lain yang mengancam pekerjaannya. Baginya, wajib hukumnya bekerja secara profesional, meski ia hanya seorang pembantu rumah tangga. Cabutan pula.

Tergopoh-gopoh ia berjalan dengan membawa penampan. Di ruang depan, keluarga Bu Ratih telah berkumpul dan tertawa hangat. Tampak jelas semuanya orang kaya, terlihat dari perhiasan yang bergelantung di badan mereka. Srimulat menuangkan jus ke gelas dan mengantarkannya satu per satu kepada masing-masing tamu.

Di ujung gerombolan, sekilas Srimulat melihat beberapa pasang mata menuju ke arahnya. Disertai bisik-bisik yang terlalu bising untuk sebuah rahasia. Namun, karena tidak terlalu fokus mendengarkan, Srimulat juga tak tahu pasti topik yang sedang dibicarakan. Meski agaknya dirinyalah yang menjadi objek obrolan.

Srimulat menggeser lututnya selangkah demi selangkah, sembari membungkuk melayani tetamu. Ketika sampai di ujung gerombol, salah satu di antara tamu menegurnya. Mengingatkan Srimulat kepada luka yang telah mati-matian ia redam selama bekerja.

“Mbak, kamu yang di Facebook itu bukan sih? Yang anaknya hilang?”

Seketika ruangan senyap. Seluruh pandangan tertuju kepada Srimulat.

Srimulat tak sanggup menjawab barang sepatah kata. Ia hanya mengangguk samar. Lehernya kaku, lidahnya kelu. Sebisa mungkin ia menahan getar agar tampak tegar. Sekali lagi, ia tak ingin menunjukkan kesedihannya kepada orang lain. Apalagi yang tidak dikenal, seperti keluarga Bu Ratih.

“Untung sudah ketemu ya, Mbak,” lanjutnya, yang sontak membuat Srimulat terperangah.

“Maksudnya, Bu? Saya belum ketemu anak saya.”

“Loh, bukannya di Ambarawa?”

“Ambarawa?” Kedua alis Srimulat bertaut, keningnya berkerut. Memikirkan segala kemungkinan mengenai anaknya.

“Iya to, di rumah neneknya. Apa kamu belum dikasih tahu? Mosok nenek bawa cucunga nggak bilang-bilang.”

“Neneknya?” ujar Srimulat lirih, seiring tubuhnya yang perlahan luruh dan terkulai di atas tikar. Tamu yang lain memegang lengannya, berjaga-jaga seandainya Srimulat kehilangan kesadaran. “Danu.... Anakku....”

“Pembantu di rumahku itu kan wawasannya soal gosip ngalahin Feni Rose. Yang dulu sales rumah, sekarang jadi host Rumpi itu loh.” Ia menyeruput seteguk jus. Seisi ruangan masih diam menunggu kelanjutan.

Lihat selengkapnya