“JADI, semua usaha kita sia-sia?”
Mendengar suara ketus dari sambungan telepon, Ester mendengus jengah. “Pertama, enggak ada yang sia-sia dari suatu usaha—tentang apa pun itu. Kedua, sebetulnya ini usaha kami sih, saya dan Mbak Sri.”
“Permisi, Ibu Ester yang terhormat dan bisa menyelesaikan kasus apa pun, siapa yang ngirim akses video CCTV itu, ya?” Prambudi semakin sebal dengan pernyataan Ester barusan, yang secara sepihak mencoreng namanya dari proses pencarian anak kliennya. Apalagi kalimat itu disampaikan dengan nada ketus dan jemawa.
“Halah, orang gitu doang!” Dari balik meja kerjanya, Ester menahan senyum. Senang betul ia menjaili perasaan lelaki yang separuh tua itu. “Lagian sebenarnya Mbak Sri sudah tahu keberadaan anaknya kok. Cek CCTV buat make sure aja.”
“Maksudnya?” Belum sempat Ester menjawab, Prambudi menambahkan, “Tuh, kan! Makin sia-sia aja.”
“Ya sudah kalau permintaan tolongku ini membebanimu. Tinggal bilang sejak awal kalau memang enggak sanggup. Sok-sokan bantu, ujungnya rewel.”
“Loh, bukan begitu, Ester. Maksudku ... Ah, sudahlah! Saya jelaskan juga kamu enggak akan percaya. Jadi, bagaimana Mbak Sri bisa tahu?”
“Kemarin ada saudara majikannya yang datang dari luar kota. Ada info dari pembantunya bahwa Danu ada di rumah neneknya. Awalnya Mbak Sri masih denial sih, dikira ada ibu-ibu yang mengaku sebagai nenek Danu. Semalam waktu cek CCTV dia makin yakin karena posturnya mirip banget dengan ibu mertuanya. Cuma ya itu masalahnya, videonya dari belakang, jadi menurutku masih kurang kuat.”
“Iya, iya, nanti saya carikan!” Prambudi segera menjawab, tak kalah ketusnya.
“Saya enggak minta lho....” ujar Ester sembari mengulum senyum.
Prambudi hanya berdeham dan malas menanggapi siasat Ester yang selalu menyudutkan dirinya. Lalu, “Terus? Kok bisa sama mertuanya, tapi dia enggak tahu?”
“Semalam Mbak Sri bilangnya ada konflik internal, sih. Saya belum tanya-tanya lagi, kondisinya enggak memungkinkan.”