SRIMULAT masih terkapar di atas dipan. Di sampingnya, Danu menatap tubuh ibunya dengan sendu. Sosok yang tak ia temui selama beberapa hari terakhir, kini hanya bisa terkulai tanpa gerak. Sangat kontras dengan sosok ibunya yang ia kenal selama ini.
Usianya masih 10 tahun. Namun, sejauh ingatannya, ia hanya familier dengan Srimulat selaku ibunya. Sementara figur sang ayah hanya ia dengar dari foto dan cerita Srimulat kadang kala. Itu pun Danu harus merengek dulu agar ibunya mau bercerita.
“Ayolah, Bu, aku juga mau kenal ayahku. Setidaknya, kalau teman-teman bahas ayah mereka, aku bisa ikut cerita juga,” pinta Danu suatu ketika.
“Kan sudah pernah....” jawab Srimulat dengan enggan. Biasanya ia akan menyibukkan diri, atau malah hengkang dari ruangan untuk melakukan sesuatu. Namun, kali ini ia sedang sangat lelah dan kehabisan alibi.
“Kurang, Bu! Aku mau cerita yang lain. Kenapa sih, Ibu enggak suka kalau aku tanya soal Ayah?” Srimulat tak mampu menjawab, sementara Danu terus mendesak. “Aku beneran punya ayah kan, Bu?”
Pertanyaan Danu itu sontak membuat Srimulat melebarkan matanya bulat-bulat. “Apa maksudmu bertanya begitu?”
Melihat ibunya murka —tidak biasanya Srimulat marah—Danu pun menundukkan kepala. Kini ia yang bungkam seribu bahasa, sedangkan Srimulat terus mencercanya dengan mata penuh kilat amarah.
“Jawab Ibu! Kenapa kamu bertanya begitu?” Srimulat mencengkeram pundak Danu kuat-kuat. Matanya menyalak merah. Suaranya bergetar sebab menahan amarah.
Dengan takut dan terbata, Danu menjawab, “Ada temanku yang tidak punya bapak. Katanya...,” Kalimat Danu berhenti sejenak. Ia meneguk ludah demi membasahi tenggorokan yang tiba-tiba mengering. Bukannya reda, bagian dalam lehernya justru semakin sakit dan memblokir suaranya. Ia tak berani menengok ke arah ibunya sama sekali.
Srimulat tak memindahkan tembakan matanya dari Danu. Menuntut penjelasan. Danu, yang ketakutan karena baru kali ini melihat ibunya berubah menjadi monster, paham betul bahwa ia tidak bisa lepas dari jeratan tanda tanya ibunya. Maka, mau tak mau, Danu mengumpulkan serpihan nyali yang barangkali masih tersisa, sembari merutuki dirinya sendiri agar lain kali lebih hati-hati dalam berbicara.