PUKUL sepuluh malam. Seluruh penjuru kampung telah padam. Hanya menyisakan lampu kuning yang terpancang di ujung gang. Sisanya, mengandalkan cahaya dari rembulan dan bintang-bintang. Seekor kunang-kunang melintas di kejauhan. Sendirian. Kesepian, mungkin. Srimulat menatapnya dengan nanar.
Sunyi. Malam benar-benar sepi. Danu sudah tidur lelap di kamar. Seharusnya Srimulat mendampinginya. Berbaring di samping Danu sembari memeluknya erat-erat. Agar Danu tidak pergi lagi. Tidak hilang lagi. Tidak diculik neneknya lagi.
Namun, ia memilih menyingkir, duduk di ambin di teras rumah. Merasakan semilir angin malam yang dingin menusuk kulitnya.
“Masuk saja, Nduk. Nanti masuk angin.”
Suara itu.... Persis seperti kalimat yang sering suaminya ucapkan. Dulu. Srimulat sama sekali tak menoleh. Kedua tangannya yang masuk ke lengan jaket kini menggenggam kuat. Mengusir sejuk sekaligus kikuk. Juga amarah yang kadung menjalar.
Si empunya suara tidak memaksa. Tidak mendapat respons dari Srimulat, ia justru mendaratkan pantat di sisi lain ambin. Seolah sengaja menjaga jarak. Meski dalam kegelapan malam, dapat terlihat jelas betapa tidak akrab mantan menantu dan mertua itu.
Srimulat, sebagai pihak yang lebih muda, juga tidak mau repot-repot mengakrabkan diri, bahkan untuk sekadar basa-basi. Apalagi sejak insiden “penculikan” Danu yang membuatnya nyaris gila. Menambah kebencian kepada Rahmawati, yang kini duduk meringkuk sama rikuhnya.
“Maaf ya, Nduk. Ibu enggak bermaksud—” ucapannya terhenti seketika tatkala terdengar embusan napas kasar dari Srimulat. Keheningan kembali mendominasi. Dinginnya angin malam tidak ada apa-apanya dibanding sikap Srimulat saat ini.
“Sejak Eka pergi, Ibu sudah enggak punya apa-apa lagi. Ibu enggak punya siapa-siapa lagi. Ibu sudah kehilangan suami, kehilangan anak. Ibu sudah kehilangan alasan untuk hidup, tapi Gusti belum mau panggil Ibu.”
Rahmawati diam sesaat, menelan ludah demi membasahi kerongkongan yang kerontang. Dengan terbata, Rahmawati melanjutkan, “Sejak bertemu Danu, Ibu merasa Eka masih hidup. Eka pulang. Anakku pulang dalam wujud kanak-kanak lagi.”
Srimulat masih bergeming, tapi matanya mulai menghangat. Pertanda kelenjar air mulai tidak mampu mempertahankan diri.
“Boleh 'kan, Nduk, Danu tinggal di sini saja?”
“Kenapa?” Srimulat mulai bersuara. Nanar. Penuh penghakiman.
“Ya, buat nemenin Ibu, menggantikan Eka.” Kalimat itu meluncur dengan entengnya dari wanita berkulit kendur itu. Mengabaikan perasaan Srimulat yang justru semakin jijik kepadanya.