“KAMU serius suka sama dia?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut yang penuh dengan sayur dan sambal kacang. Sedangkan pria yang ditanya, sibuk mengaduk-aduk pecel di piringnya. Membikin si penanya dan lelaki lain di sampingnya saling lirik.
“Aku kira selama ini kamu homo.”
“Sialan!” Akhirnya pria itu bersuara. Jawabannya justru memancing kelakar dua rekannya yang sudah hampir selesai makan siang.
“Jawab, Bro. Kamu beneran naksir sama cewek itu atau sekadar pelarian aja biar enggak ketahuan suka sama lanang¹?” tanya pria setengah botak itu lagi. Kini tangannya mencomot tempe mendoan yang sudah dingin dan alot.
“Kalian bisa diam enggak sih?”
“Lho, kok marah?” Suara tawa kembali memenuhi warung pecel Mbok Sum yang terletak persis di belakang Polsek.
“Alah, kalaupun ternyata memang begitu, enggak apa-apa juga. Kami bisa maklum,” timpa pria berkumis tebal, yang pertama kali melempar pertanyaan tadi.
“Amit-amit!”
“Makanya nikah, Bro,” ujar pria berkepala plontos. “Kelamaan membujang, jadi mengkhawatirkan gini.”
“Najis. Gini-gini aku masih doyan cewek!”
“Masih?”
“Bodo amat!” Ia bangkit dan membayar pecel yang belum dilahapnya barang sesuap. Lantas melenggang begitu saja, meninggalkan dua rekannya. Yang satu mulai menyulut rokok, satunya lagi sedang mengais-ngais sisa makanan di sela gigi menggunakan bekas tusuk sate telur puyuh. Ia memilih kembali ke kantor, muak sebab sedari tadi menjadi bahan olok-olokan.
Di dalam kantor, ia menjauhkan kursi dari meja komputer. Duduk di atasnya. Lantas meluruskan kaki ke atas meja, sepasang telapak berbalur kaus kaki busuk bertatapan dengan layar komputer. Kipas yang tergantung di atas jendela masih berputar, tetapi hawa di ruangan justru semakin panas. Entah karena cuaca yang terlalu ekstrem atau memang kipasnya yang rusak. Atau barangkali, panas itu datang dari dalam dirinya. Dalam hatinya. Dalam pikirannya.
Ia lantas teringat kepada perempuan yang belakangan memenuhi kepalanya. Berkat kekurangajaran rekan kerjanya tadi, ia jadi mempertanyakan kesungguhan perasaannya sendiri.
Apa aku benar-benar naksir? Apa aku jatuh cinta lagi? Apa dia membalas perasaanku? Atau ini cuma adrenalin karena merasa tertantang dengan sikapnya yang dingin?
Ia mengembuskan napas kasar. Dahinya penuh keringat. Bagian ketiak dan punggung bajunya pun basah berpeluh. Ia sangat membenci situasi ini. Tidak seharusnya di usianya yang tak lagi muda, ia justru dibuat gelisah bak cinta remaja. Segera dihapusnya ingatan dan pikiran itu, mencoba untuk tidur siang.
Namun, denting notifikasi justru membuatnya kembali terjaga. Ia hendak melirik layar dan mengabaikannya saja. Namun, ketika melihat nama yang terpampang, ia sontak terperanjat. Duduk tegak. Tubuhnya hangat akibat aliran darah yang melesak.
Pesan dari Ester.
***