Kejadian semalam membuat Sasa semakin takut ke sana. Dio juga pun takut. Tapi demi membuat Sam kembali, ia akan menendang jauh-jauh rasa takutnya.
Kebingungan juga menyelimuti keduanya. Yang semalam itu apa? Suara hantaman itu apakah pemilik rumah itu yang melakukannya? Tapi jika bukan, lalu siapa? Juga lampu yang padam itu.
Bermenit-menit sibuk dengan berbagai pertanyaan, lalu berpikir untuk suatu jawaban, akhirnya muncullah sebuah sebuah kesimpulan yang sama di kepala mereka: jika apa yang terjadi semalam adalah Pak Ompuse, pemilik rumah tua itu yang melakukannya, benarlah dugaan yang sebelumnya ada di kepala mereka. Bapak itu berusaha mengusir mereka dari rumahnya dan ingin mereka tidak kembali lagi.
Baik Sasa maupun Dio sangat tidak suka itu. Masalahnya, kemungkinan besar kan dia belum tahu alasan mereka ke sana. Sepertinya dia telah membuat kesimpulan sendiri. Berpikir Sasa dan Dio ke sana untuk mengganggunya. Apa yang dia pikirkan? Berpikir Sasa dan Dio ingin mencari tahu tentang rumahnya yang nampak tua dan menyeramkan? Berpikir Sasa dan Dio ingin menemuinya karena ingin bertanya mengapa ia menanam banyak pohon cempaka? Apakah dia berpikir mereka adalah remaja iseng yang penasaran dengan itu semua?
"Apa sih yang ada di pikiran bapak itu?" tanya Sasa setelah sekian lama membisu. Dio di depannya menghela napas pelan. Kemudian meluncurlah pertanyaan-pertanyaan tadi dari mulut mereka.
Lalu keduanya terdiam lagi. Memandang permukaan meja dengan mata menyipit. Berpikir lagi.
Kantin sekolah jam dua lewat tiga puluh menit kosong melompong. Selain bangku-bangku yang berjejer, hanya ada mereka berdua serta tas mereka di sana.
Tiba-tiba keduanya mendongak bersamaan dan saling berpandangan. Sebuah dugaan telah muncul di kepala mereka.
"Dugaan yang pertama," Dio memulai. "Dia nggak tau alasan sebenarnya kita ke sana. Yah, kata orang-orang dia penutup. Berarti dia dengan ketidaktahuaannya cuma punya satu tujuan, yaitu ngusir kita dan buat kita nggak ke sana lagi. Dia berpikir kita cuma mau ganggu, dan dia merasa risih. Dia nggak peduli apa pun, yang pasti, dia cuma pengen kita nggak ke sana lagi. Udah, titik," kata Dio.
Sasa mengangguk. "Dugaan kedua, menurut gue, dia menduga kita cuma penasaran sama rumahnya, pohon cempaka yang tumbuh di sana, dan kita nemuin dia karena pengen tau tentang itu semua. Penasaran sama rumahnya, dan pengen tau, kenapa dia suka nanem banyak pohon cempaka?" Sasa mengangkat kedua telapak tangannya ke atas dengan wajah bertanya dibuat-buat.
"Jadi, menurut dia kita cuma remaja yang penasaran sama rumahnya," timpal Dio.
"Lo punya dugaan yang lain?" tanya Sasa dan Dio mengangguk.
"Dugaan yang ketiga," kata Dio. Wajahnya tegang saat akan mengatakannya. "Ini agak sulit dipercaya dan nggak tau apa alasannya. Dia menduga dengan tepat dan yakin alasan kita ke sana, yaitu nyari Sam, tapi nggak mau ngasihin si Sam ke gue."
"Kalo itu yang beneran terjadi Yo, bakal muncul pertanyaan. Kenapa? Kan itu kucing elo."
"Nah, gue belum ada dugaan atas pertanyaan itu," ucap Dio.
"Dia aneh kalo kek gitu. Itu aja kalo kata gue mah."
"Kalo itu alasannya, ya kita harus ngelawan." Dia menggertakan rahangnya.
Sasa entah kenapa juga berpikir sama. Walaupun takut, ia juga tak mau dan akan berusaha supaya dapat mengambil Sam.
"Ya. Sam harus kembali ke pelukan elo," kata Sasa.
Dio terkekeh mendengar perkataan Sasa. "Bahasa elo. Pake ke pelukan gue."
Sasa hanya tertawa kecil mendengarnya.
Detik berikutnya ekpresi wajah Dio berubah mengeras. Kedua alis hampir bertaut dan mata melotot tajam. "Gue akan ngelakuin apa pun buat ngambil Sam." Ia menatap Sasa tajam. "Dan lo harus ikut."
Sasa balas menatapnya tajam. "Ya. Gue ikut. Nggak akan kabur. Tenang aja."
"Kita ke rumah itu sekarang."
***
Ada selembar kertas yang ditempelkan di gerbang itu. Setelah menyetandarkan sepedanya, mereka dengan langkah cepat mendekati gerbang, lalu membaca tulisan yang ditulis tebal-tebal dengan sepidol hitam.
Pergi! Jangan ke sini lagi!
Itu yang tertulis di kertas tersebut.
"Kalo gue nggak mau gimana?" canda Sasa setelah membaca tulisan itu.
"Sayangnya gue nggak mau. Gimana, dong?" Dio ikut-ikutan dan kedua remaja itu lalu berpandangan dan saling melempar seringai jahat.
Sasa mengambil kertas itu dan mengangkatnya ke depan wajah.
"Hancurkan," ucap Dio dengan nada jahat.
Sasa tersenyum jahat lalu merobek-robek kertas itu sampai menjadi sobekan-sobekan kecil. Dio langsung menginjak sobekan-sobekan kertas itu begitu benda itu jatuh ke tanah.
Setelah selesai menghancurkan kertas tersebut, mereka menghadap gerbang dan memandang pintu gerbang yang digembok itu. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini pintu gerbangnya digembok dari dalam.
"Berarti…" ucap Sasa.
"Pak Ompuse Damaega itu ada di dalem," lanjut Dio.
"Terus kita mau gimana, nih? Manggil dia dari sini, atau manjat gerbang ini terus manggil dia dari depan pintu?" tanya Sasa.
"Manjat gerbang terus manggil dia dari depan pintu aja deh. Sekarang ayo naik!" Begitu Dio menyelesaikan kalimatnya, ia mulai memanjat gerbang di depannya. Sasa yang berada di sebelah kirinya pun melakukan hal yang sama.
Bruk!
Keduanya meloncat dan mendarat bersamaan ke tanah berpaving. Mereka lalu berjalan cepat menuju pintu depan rumah itu.
Kaki mereka kompak berhenti berjalan saat akan menginjak teras. Di permukaan teras itu terdapat tanaman duri yang di letakkan sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh permukaan teras dengan rata. Tanpa celah. Dan duri-duri itu tampak tajam dan segar. Seolah tanaman itu sengaja ditanam di sana.
"Buset. Gini amat sih!" seru Dio. Cowok itu geleng-geleng kepala.
"Bukan teras ini aja yang ditutupin duri lagi," kata Sasa. Ia menunjuk ke permukaan teras yang mengelilingi bagian depan rumah itu. "Kayaknya semua teras yang ada di rumah ini deh." Ia lalu berjalan ke samping rumah itu. "Tuh kan!" teriaknya. Ia kemuduan berjalan ke dekat Dio lagi.
Dio mengambil napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Ia lalu mulai berteriak, "Assalamualaikum! Permisi! Bapak Ompuse, saya mau bertemu dengan Anda! Tolong Pak! Saya tidak punya niat jahat! Saya cuma mau bertanya pada Bapak! Assalamualaikum! Pak!"
Hening beberapa saat. Tidak ada sahutan dari dalam.
"Ck!" keluh Dio. "Gantian elo yang panggil Sa!" suruhnya.
"Oke," kata Sasa sambil mengangguk. "Assalamualaikum! Permisi! Bapak Ompuse yang terhormat, saya dan Dio mau bertemu! Ada hal yang ingin saya dan Dio tanyakan pada Anda! Tolong Pak! Assalamualaikum! Permisi Pak! Assalamualaikum! Permisi! ASSALAMUALAIKUM! SELAMAT SIANG! KONNICHIWA! SUMIMASEN!"