Mencintai Duke Michael

Vya Kim
Chapter #7

Chapter #7

Tubuh mungil yang masih terbalut baju pengantin itu sedikit bergetar. Bukan karena dingin, tapi karena emosi yang memuncak dalam keheningan. Tatapannya penuh amarah dan kebencian pada pria di depannya.

Pantulan kilatan petir seolah menjadi suara latar di antara jarak mereka berdua. Michael terdiam menatap wanita yang baru saja resmi jadi istrinya.

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Michael tenang.

"Orang tuaku ..., kecelakaan ...," ujar Astoria lirih menahan tangisnya. Tatapannya kosong. Ia berharap ini mimpi tapi suara petir di luar yang bersahutan selalu menyadarkannya bahwa ini nyata.

Michael mengernyit tipis. "Kecelakaan?" ulangnya pelan, seolah memastikan ia tidak salah dengar. "Siapa yang menghubungimu?"

Astoria tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam gagang telepon, suara sambungan yang kini terputus itu terasa berisik seperti dengungan yang tak mengganggu. Bibirnya bergetar.

"Polisi ...," jawabnya akhirnya, nyaris tak terdengar. "Mobil mereka tergelincir ... ke jurang."

Hening.

Sejenak, hanya suara hujan yang menghantam jendela, dan petir yang sesekali membelah langit malam.

Michael menarik napas dalam. Tatapannya berubah, tidak lagi sekadar dingin, tapi lebih dalam, lebih serius.

"Kita ke sana sekarang," katanya singkat.

Astoria mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, tapi bukan karena menangis. Belum. Air matanya seperti tertahan di suatu tempat yang bahkan ia sendiri tak tahu.

"Apa ini semua rencanamu?" suaranya bergetar, tapi tajam. Menusuk.

Michael menatapnya lurus. Tidak menghindar. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

"Jika itu rencanaku … aku tidak akan berdiri di sini sekarang."

Kalimat itu hampir terucap. Tapi Michael menahannya. Ia tahu, dalam keadaan seperti ini, kata-kata apa pun akan terdengar seperti kebohongan di telinga Astoria.

"Aku akan mengantarmu," ujarnya akhirnya.

Astoria tertawa kecil. Kering. Tanpa emosi.

"Tentu saja," bisiknya. "Keluarga Bloom selalu tahu cara menyelesaikan semuanya, bukan?"

Michael tidak menanggapi. Ia hanya berbalik, mengambil jasnya, lalu berjalan menuju pintu. Tanpa memaksa, tanpa menyentuhnya.

Dan anehnya, justru itu yang membuat Astoria semakin marah.

-*-

Perjalanan menuju lokasi kecelakaan terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.

Kabut tebal menyelimuti jalanan yang berkelok. Bekas hujan membuat aspal licin dan berkilau di bawah sorotan lampu mobil.

Astoria duduk diam di kursi penumpang. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Ia menatap lurus ke depan, tapi pikirannya kosong.

Atau mungkin ... terlalu penuh.

Kenangan.

Tawa ayahnya. Senyum ibunya. Suara mereka di meja makan. Semua terasa begitu dekat. Dan sekarang ... hilang?

Tidak. Tidak mungkin.

Mobil berhenti mendadak.

Astoria tersentak.

Lampu-lampu darurat berkelip di kejauhan. Beberapa orang berdiri di tepi jalan. Suara walkie-talkie terdengar samar.

Tanpa menunggu, Astoria langsung membuka pintu.

"Astoria—" panggil Michael.

Ia tidak peduli.

Langkahnya cepat, hampir berlari menuju pembatas jalan. Nafasnya memburu. Matanya mencari. Mencari sesuatu yang bahkan ia tak tahu ingin ia temukan.

Di bawah sana.

Lihat selengkapnya