Mencintai Duke Michael

Vya Kim
Chapter #8

Chapter #8

Langit masih kelabu saat iring-iringan mobil mulai berdatangan ke kediaman keluarga Everly. Udara terasa berat, seolah bahkan angin pun enggan bergerak terlalu cepat di tempat yang dipenuhi duka itu.

Astoria berdiri di dekat pintu masuk. Gaun hitam sederhana membungkus tubuhnya yang tampak lebih kecil dari ukuran biasa. Rambutnya dibiarkan terurai, sedikit berantakan. Wajahnya pucat, tapi matanya kosong.

Orang-orang datang silih berganti. Ucapan yang sama.

“Turut berduka ya ….”

“Kamu harus kuat ….”

“Kami ikut kehilangan .…”

Astoria hanya mengangguk pelan. Sesekali memaksakan senyum tipis yang bahkan tidak sampai ke matanya.

Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tahu rasanya.

Tidak ada.

Di tengah keramaian itu, ia justru merasa paling sendirian.

-*-

Suara langkah yang lebih teratur terdengar dari kejauhan.

Beberapa kepala menoleh. Dan suasana seolah berubah. Keluarga Bloom datang.

Sebastian Bloom, ayah dari Michael dan Nathaniel, berjalan paling depan. Tegap, rapi, dengan aura yang terkesan berkelas dan terpandang. Di sampingnya, Eleanor, istrinya, dengan ekspresi tenang seolah ini bukan apa-apa. Di belakang mereka, Nathaniel dan Michael.

Langkah Astoria terhenti sejenak. Tatapannya langsung jatuh pada Nathaniel. Dingin. Tajam. Penuh sesuatu yang belum ia keluarkan.

Nathaniel mendekat lebih dulu.

“Turut berduka,” ucapnya pelan.

Nada suaranya tepat. Tidak berlebihan. Tidak juga dingin. Tapi tetap saja … terasa salah.

Astoria menatapnya tanpa ekspresi.

“Ini kehilangan besar bagi kita semua,” lanjut Nathaniel.

Astoria hampir tertawa. Hampir. Namun yang keluar hanya napas panjang yang tertahan.

Michael berdiri beberapa langkah di belakang. Tidak ikut bicara. Tidak juga memotong. Tapi matanya sesekali mengarah ke Astoria, memastikan sesuatu, entah apa.

Astoria tidak ingin tahu.

-*-

Di dalam rumah, suasana lebih sesak. Foto kedua orang tuanya diletakkan di depan, dihiasi bunga-bunga putih. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi bunga yang terlalu menusuk.

Astoria duduk di kursi depan.

Diam.

Seorang wanita mendekat. Suaranya lembut.

“Aku turut berduka.”

Astoria mengangkat wajahnya.Wanita itu berbeda. Tidak seperti yang lain. Tatapannya tidak sekadar formal. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang berat.

“Terima kasih,” jawab Astoria pelan.

Wanita itu mengangguk. Tidak banyak bicara. Wanita itu kemudian berdiri di samping Nathaniel. Tapi sebelum beranjak, ia sempat menatap Astoria sedikit lebih lama.

Seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih diam. Astoria tidak tahu kenapa, tapi perasaan aneh muncul di dadanya.

-*-

Pemakaman berlangsung sore hari. Langit mendung, tapi tidak hujan. Seolah alam menahan diri.

Astoria berdiri di depan liang lahat. Tangannya menggenggam ujung bajunya sendiri.

Peti itu perlahan diturunkan. Satu per satu orang mulai melemparkan bunga. Suara tanah yang jatuh terdengar terlalu jelas.

Terlalu nyata. Dan di saat itu sesuatu di dalam Astoria pecah. Napasnya tersendat. Tangannya gemetar.

Air mata yang sejak kemarin tertahan, akhirnya jatuh. Bukan tangisan keras. Bukan jeritan. Hanya suara kecil yang keluar dari tenggorokannya, nyaris tak terdengar. Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar hancur.

Lihat selengkapnya