Mencintai Duke Michael

Vya Kim
Chapter #9

Chapter #9

Pintu terbuka sedikit lebih lebar. Astoria berdiri di sana beberapa detik, sebelum akhirnya menyingkir memberi jalan.

Michael melangkah masuk tanpa banyak bicara. Sepatunya yang masih sedikit basah karena hujan meninggalkan jejak samar di lantai marmer. Ia tidak melihat ke sekitar terlalu lama, hanya sekilas, cukup untuk memahami ruang itu.

Ruang tamu rumah Everly terasa berbeda malam ini. Lampu tidak terlalu terang. Hanya beberapa sudut yang menyala, menciptakan bayangan panjang di dinding. Bau bunga dari rumah duka tadi masih samar tercium, bercampur dengan udara lembap setelah hujan.

Astoria menutup pintu pelan.

Klik.

Suara itu terasa lebih keras dari seharusnya. Ia berjalan lebih dulu, duduk di sofa tanpa mengundang. Gaun hitam yang ia pakai masih rapi, tapi bagian bawahnya sedikit kusut. Rambutnya terurai, sebagian menutupi wajahnya.

Michael tidak langsung duduk. Ia melepas jas hitamnya, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya di sandaran kursi. Kemeja putih di dalamnya masih bersih, garisnya tegas. Lengan kemejanya ditarik sedikit ke atas, memperlihatkan pergelangan tangannya.

Baru setelah itu ia duduk. Berhadapan. Jarak di antara mereka tidak jauh. Tapi terasa sangat jauh. Tidak ada yang bicara.

Astoria tidak menawarkan apa pun. Tidak air. Tidak basa-basi. Michael juga tidak meminta. Hening itu dibiarkan.

Seperti dua orang yang sama-sama tahu, ini bukan percakapan biasa. Ini negosiasi.

“Kebun anggur itu akan jadi target.”

Michael yang memulai. Langsung. Tanpa pembuka.

Astoria mengangkat wajahnya sedikit. Matanya langsung menajam.

“Aku sudah tahu.”

Nada suaranya datar, tapi ada lapisan emosi di dalamnya.

Michael tidak bereaksi.

“Cara mereka bekerja tidak pernah berubah,” lanjutnya. “Mereka akan menunggu situasi melemah, lalu masuk.”

Astoria menyandarkan punggungnya ke sofa.

“Dan kau bagian dari ‘mereka’.”

Michael diam sejenak. Namun tidak membantah.

“Keadaannya sekarang tidak menguntungkan,” katanya, tetap tenang. “Pengelolaan masih tradisional. Tidak ada perlindungan hukum yang kuat.”

Ia berhenti sebentar, menatap Astoria.

“Kalau dibiarkan … itu akan diambil.”

Tidak ada ancaman dalam nadanya. Hanya fakta. Dan itu justru membuatnya terasa lebih berat.

Astoria menahan napasnya. Ia benci mengakui ini, tapi dia tahu, Michael tidak salah.

“Aku akan investasi di sana.”

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Michael. Tenang. Seolah keputusan itu sudah lama dibuat.

Astoria langsung tertawa kecil. Tanpa humor.

“Tentu saja.”

Ia menatap Michael lurus.

“Dengan imbalan apa?”

Hening sejenak. Michael menyilangkan jemarinya.

“Tidak ada yang gratis dalam bisnis.”

Jujur.

Terlalu jujur.

Astoria mendengkus pelan.

“Aku tidak butuh orang lain mengingatkanku soal itu.”

Lihat selengkapnya