Mencintai sendirian Bab1- pertemuanpertama
Hari itu usia Leon genap 12 tahun, ulang tahun Leon diadakan sangat mewah. Walau di luar hujan. Tapi semua antusias menghadiri acara ulang tahun sang tuan muda. Bukan hanya dari kalangan pebisnis, tapi semua tetangga dari yang tidak mampu sampai ke yang mampu diundang. Sudah jam jam 8 malam, tapi lilin itu belum juga ditiup. Leon berharap mama dan papanya akan segera tiba ketika sebelumnya pergi dari tadi siang dan tidak kembali sampai sekarang . Mereka pamit untuk memberikannya hadiah yang telah mereka janjikan. Tapi sudah jam 8 malam, dan kedua orang tuanya belum datang.
"Sebaiknya kamu tiup lilinnya dulu. Karna semua tamu menunggumu dari tadi. Kasian temenmu besok harus sekolah."ucap sang nenek Vivian memberi pengertian.
Leon menatap pintu utama lama. Sang tuan muda merasa cemas. Bukan karna dia ngambek karna tidak segera mendapatkan hadiah. Tapi karena kedua orang tuanya itu pergi dan belum kembali.
"Ayo Leon,"ucap Vivian membujuk Leon.
Leon menghelang nafas. "Tapi, apa Nenek tidak coba menelfon mama papa?"
"Sudah katanya abis ini sampai."
Lega mendengar itu. Leon pun meniup lilin dengan terpaksa. Dia tak menginginkan apapun selain kehadiran orang tuanya di hari ulang tahunnya yang ke 12 . Saat Leon sedang asik berbicara dengan teman-teman sekelasnya. Munculah kedua orang tuanya bersama seorang anak perempuan yang lebih muda darinya. Anak itu berambut hitam dengan panjang sepinggang. Dengan mata bulat, Hidung mancung, serta bibir merah muda. Sangat cantik pikir Leon. Tatapan mereka bertemu. Lalu ia melihat kearah orang tuanya yang tersenyum kearahnya. Leon langsung menghampiri papa mamanya dan langsung menghambur kedalam pelukan mamanya.
"Selamat ulang tahun Leon." ucap Renata memeluk Leon putra satu-satunya. Renata tidak kuasa menahan tangis. Tangis yang iya sembunyikan selama ini di hadapan suami dan putranya "Maaf, kita terlambat." ucap Renata melirik suaminya. Dan suaminya menatap istrinya dan putranya bergantian. Rasanya campur aduk, ia tidak kuasa menahan rasa sedih. Matanya berkaca-kaca, akankah ini adalah hari ulang tahun putranya bersama bersama istrinya. Mengingat kondisi istrinya semakin memburuk. Kangker rahim yang menggerogoti wanita yang di cintainya sehingga tidak bisa memiliki anak lagi. Tanpa Leon ketahui Antoni membalikkan tubuhnya dan segera menghapus air matanya. Tidak ada yang menyadari nya. Hanya Renata istrinya yang melihat itu.