Mencintai sendian Bab 2- Hari pemakaman
Sudah 3 tahun berlalu dan keluarga angkatnya memperlakukan Bunga dengan baik. Mamanya Renata semakin memburuk keadanya. Hingga sampai melakukan pengobatan di luar negri. Ajaib. Mama Renata sampai bertahan sejauh ini padahal kangkernya telah menyebar dan menggerogoti tubuhnya. Diusia Bunga yang masih kecil. Ia harus dituntut dewasa sebelum waktunya untuk menjaga sang tuan muda agar tidak kesepian. Sang Tuan muda hanya tidak tau kalau mamanya sedang sekarat berjuang antara hidup dan mati. Yang Leon ketahui kedua orang tuanya pergi ke luar negri karena urusan bisnis. Senyum itu masih sama. Tawanya masih sama seperti pertama kali Bunga bertemu dengan sang kakak angkat. Tapi Bunga tau. Lebih tau dari siapapun, kalau Kakaknya Leon sering melamun dan merasa sedih, walau ia tau Leon sering menutupinya dengan sikap ceria dan perhatian seperti biasanya. Sudah dua tahun kedua orang tua angkatnya tinggal di luar negri. Dan hanya ada Bunga yang menemani Leon dan juga beberapa prlayan. Usia nya sekarang 13 Tahun dan Leon 15 tahun. Tidak banyak interaksi bersama mama dan papa angkatnya selama tinggal bersama karna Keadaan mama angkatnya semakin memburuk. Sesekali ia dipersilahkan masuk ke kamar mamanya hanya untuk mendengarkan cerita wanita itu tentang putranya. Dia tidak pernah menyayanginya dan menganggapnya anak, begitupun dengan papa angkatnya yang sibuk dengan kondisi mamanya dan kesibukan kantor. Hingga tidak ada waktu untuk Leon. Dan dialah yang menemani dan bermain bersama kakak angkatnya. Tidak ada hal lain yang di bicarakan oleh Renata pada Bunga selain membahas tentang putranya. Mulai dari keseharian nya. Makanan kesukaannya. bahkan ukuran bajunya. Dan ia tidak marah atau kecewa dan merasa terabaikan karna adopsi hanya kedok untuk ia menjaga anak satu-satunya sang tuan muda keluarga ini. Tidak ada yang salah dari itu. Seorang Ibu menginginkan yang terbaik untuk anak semata wayangnya. Cukup ia Tahu diri. Karena orang tua angkatnya sangat baik menyekelohkannya di tempat elit. Memberikan makanan dan baju yang bagus untuk anak yatim sepertinya. Keluar dari kemiskinan yang membelenggunya dari kecil itu lah keinginannya. Sekolah seperti anak lainnya hingga menjadi wanita yang sukses itu lah cita-citanya dari dulu. Dan sekarang dia mendapatkan hal itu. Dan dia tidak merasa dirugikan ketika Renata datang ke panti asuhan untuk menjadi orang tua angkatnya malah menjadi penjaga untuk anak angkat mereka. Tapi yang membuat ia bahagia saat ini adalah, Bukan karna fasilitas yang ia dapat dari kedua orang tuaya melainkan karna kasih sayang Leon padanya. Bahkan ketika sering Bunga mendapati Leon menangis diam-diam karrena merindukan kedua orang tuanya. Leon selalu menghapus air matanya dengan cepat mengajaknya bermain seperti biasa. Hanya untuk menjaga perasaan Bunga agar tidak hawatir.
Ia inga, 2 tahun lalu sebelum pergi untuk menjalani pengobatan di luar negri. Mamanya memanggilnya ke kamar dan berkata padanya.
"Kamu tau alasan saya memelihmu menjaga anak saya?" Tanya Renata menatap Bunga yang menuduk di kursi hadapannya.
"Tidak Ma, "
"Lihat saya." ucap Renata. Seketika itu Bunga menatap ke arahnya.
"Karena kamu mirip seperti saya."
"Maksut mama?" tanya Bunga tidak mengerti.
"Kamu cantik dan baik hati. Walau kamu masih kecil. Kamu mempunyai sifat keibuan dan menyayangi semua orang. Saya selalu memperhatikanmu ketika ke panti asuhan. Kamu selalu memberikan makananmu pada anak panti lain. Kamu ikut mengasuh anak kecil disana. Bahkan saya tau kalau kamu sering kelaparan karna memberikan jatah makanmu pada anak lain."
Bunga terkejut. Ia tidak tau bahwa orang luar mengerti serinci itu tentang di rinya.
"Kamu anak baik. Karna kebaikan hatimu aku ingin mengadopsimu menjadi adik bagi Leon. Maaf, diusia semuda ini kamu di paksa untuk mengerti akan keadaan keluaga kami. Maafkan mama yang tidak bisa menjadi mama yang baik untukmu." Untuk pertama kali Renata menangis. Bukan karena kakaknya Leon. Melainkan karna dirinya.
Bunga memeluk wanita rapuh di hadapannya. "Tidak apa, aku baik-baik saja. " ucap Bunga sedih karna waktu untuk bersama Renata sangat singkat. Tapi tidak ada air mata yang keluar dari mata-nya. Dia sosok yang tangguh dan tegar.