Mencintai sendirin Bab 4- Masih dirawat di rumah sakit.
Setelah terdengar dengkuran halus. Bunga menggantikan pahanya yang dibuat bantal dengan sebuah bantal yang tadi di pakainya. Lalu dengan pelan ia keluar kamar untuk memanggil perawat."
"Sus, kakak saya sudah bangun. Dan panasnya juga juga sudah turun." ucap Bunga memberitahu pada perawat.
"Baik dek, saya akan panggilkan dokter untuk mengecek keadaan kakak adek, dimana orang tua adik?" tanya perawat itu.
"papa pulang, dan tadi ada Bik Ratih di luar. Tapi Bunga tidak tau dimana dia sekarang."
"Kalau begitu adek bisa hubungi Bik Ratih. Atau orang tua adik, sebentar lagi saya akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan kakak adek."
"Tapi kakak sudah mencabut infusnya." ucap Bunga menjelaskan. Dia ketakutan, karna tidak langsung menghubungi perawat setelah Leon sadar.
"Tidak apa Dek, tunggu sebentar ya."
"Iya Sus."
*****
Setelah 5 menit menunggu. Dokter datang memeriksa kondisi Leon. di lihatnya Leon sudah tertidur dengan pulas di ranjang tempat para tamu. Dan dokter itu cuma bisa menggeleng dengan tihkah pasiennya. Suster membagunkan Leon membuat pria itu terbangun.
"Bagaimana keadanmu?" tanya dokter mengecek keadaan Leon.
"Aku baik."
"Masih pusing, nyeri perut, atau mual.?
"Hanya pusing sedikit."
Dokter pun memeriksa keadan Leon. Dan kodisinya sudah lumayan bagus. "Kenapa infusnya dicabut?"
"Karna aku sudah baik-baik saja."
"Kamu belum sepenuhnya sembuh. walau sudah tidak demam lagi, tapi perlu perawatan lagi. Biar suster memsangkan infusnya lagi dan tolong jangan dicabut tanpa perintah dari saya"
Leon hanya diam dan tidak membalas perkataan dokter. Menurutnya keadaannya sudah membaik. Hanya sedikit pusing saja.
"Ayo Dek, biar saya bantu pindah ke ranjang pasien." Ucap perawat itu membantu Leon pindah ke ranjang. Lalu memasangkan infus lagi pada tangan Leon membuat Leon meringis. Padahal rasanya sakit saat jarum menyentuh kulitnya. Kenapa ia tidak sadar ya?
Lalu setelah semuanya selesai ia baru sadar kalau adiknya sudah tidak ada di sampingnya.
"Dimana adikku?" tanya Leon menatap sekeliling.
"Dia menunggu di luar dan sedang menghubungi orang tuamu untuk memberitahu kondisimu. " ucap perawat itu lagi.
"Tidak! aku tidak mau bertemu papa! aku ingn bertemu adikku!!!!" Teriak Leon marah dan akan mencabut infusnya karna tidak ingin bertemu papanya. Hatinya sakit, dan ia belum siap bertemu papanya. Kemarahannya terlalu besar untuk sekedar bertatap muka.
"Leon berhenti!" tegas dokter itu. Karna Leon mengamuk tidak ingin bertemu papanya sampai dokter dan suster itu memegangi Leon agar tetap diam tidak mencabut infusnya lagi.
"Jika kalian tidak ingin aku berulah, bawa adikku keamari. Dan jangan biarkan papa menjengukku!" Ancam Leon berapi-api.