Mencintai sendirian

ismiati wardani
Chapter #5

Bab 5 - Kecurigaan Antoni

Mencintai sendirian Bab 5 - Kecurigaan Antoni

Saat ia sedang tidur karena kelelahan. Ponselnya berdering membuat ia terjaga dan terbangun dengan panik. Dan setelah mendengar kabar Leon. Ia langsung menghubungi orang kepercayaannya untuk menemaninya ke rumah sakit.

"Ada apa Bos memanggil saya ke sini." Tanya Malik orang kepercayaan Antoni sekaligus wakil CEO yang menggantikannya di perusahaan.

"Kita ke rumah sakit."

Tanpa banyak berkomentar Malik mengangguk dan mengendari mobilnya membelah jalan raya yang sepi.

"Kita ke pusat perbelanjaan."

"Mau beli apa Bos?"

"Buah-buahan untuk Bunga." Sontak jawaban itu mengejutkan bagi Malik. Setaunya atasannya itu terlalu cuwek untuk sekedar membawa buah tangan untuk anak angkatnya.

Dan di sinalah ia berada di pusat perbelanjaan yang tidak terlalu besar tapi cukup dekat dengan rumah sakit. Antoni memasuki pusat perbelanjaan itu. ia melihat beberapa buah-buahan yang berjejer rapi di rak- rak itu.

Tangan nya mengambil buah anggur, melon, semangka, pisang dan banyak lain. Tanpa melihat harga.

"Apa Bos mau berganti perofesi jual buah-buahan?" tanya Malik heran.

"Tutup mulutmu dan bawa ini ke kasir." perintah Antoni.

Saat Malik sedang membayar. Antoni pergi ke tempat pakaian wanita, Ia melihat-lihat deretan baju-baju untuk anak perempuan. Ia mengingat baju yang dipakai Bunga sudah kekecilan dan kusam.

"Apa Ratih tidak pernah membeli baju untuk anakku?" tanya Antoni.

"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya seorang pelayan menghampiri Antoni

"Aku ingin kamu ambilkan saya baju untuk anak perempuan. Usianya 13 tahun."

"Ayo ikut saya, saya akan menunjukkan koleksi baju di toko kami."

"Tidah usah, pilihkan lima baju. Salah satu warna biru." ucap Antoni mengingat keseringan Bunga memakai baju warna biru. " Dan satu, pilihkan yang tertutup " Karena ia tau selera Bunga yang tidak pernah memakai baju terbuka. Persis seperti Renata.

"Untuk ukurannya Pak?"

"Ukurannya L saja." Walau Bunga kurus, tapi ia tidak mau mengambil resiko kalau baju yang di belinya terlalu kecil.

"Baik Pak, apa bapak tidak ingin memilih sendiri. Mungkin anda lebih tau selera putri anda."

"Saya terburu-buru."

"Baik Pak," Ucap pelayan itu pergi.

Lihat selengkapnya