Mencintai sendirian

ismiati wardani
Chapter #9

Bab 9-Perubahan Leon

Mencintai sendirian Bab 9- Perubahan Leon.


Setelah mengerkan sholat. Ia masih memakai piyama yang sama. Ia menyisir rambuntnya lalu berkaca dicermin. Wajahnya natural tanpa Makup tipis yang biasanya ketika pergi ke sekolah. Dengan rambut yang sudah panjang sepinggang, iya ingin mewarnai rambutnya seperti teman-teman seumurannya dengan warna coklat, walau ia ingin dan penasaran, Bunga tidak ingin mengubah warna rambut hitamnya. Karena itu adalah identitas dirinya yang mirip dengan almarhum Ibunya. Ya kecantikan Bunga bukan didapat oleh perawatan, tapi warisan dari Ibunya.


Sebenarnya ia masih tidak ingin makan karena ingin makan bersama kakaknya dimeja makan seperti dulu, tapi perutnya tidak bisa di ajak berkompromi. Ia kelaparan karna tadi pagi hanya minum susu dan siangnya hanya makan mie ayam di kantin. Jadilah sekarangg ia turun menggunakan Lif dan duduk dimeja makan panjang itu seorang diri. Hampa dan terasa kosong, itulah yang dirasakannya tanpa kakaknya. Dia tidak dekat dengan siapapun kecuali kakaknya. Dengan papa angkatnya saja ia canggung, karena belum terbiasa. Papa angkatnya itu sibuk di kantor, pergi pagi pulang malam.


Tersaji beberapa menu makanan dimeja itu Semenjak dia datang kesini selalu seperti ini. pelayan yang memasak banyak makanan hanya untuk dirinya dan Leon, karena mama angkatnya yang jarang keluar kamar dan Antoni yang selalu sibuk. Dia tidak tau kenapa pelayan memasak terlalu banyak dan ia tidak bertanya, apakah makanan sisa itu dibuwang? atau untuk para pelayan di rumah ini.


"Bik,?" ucapnya pada pelayan yang menghentikan gerakannya. "Kenapa masak makanan sebanyak ini?" tanya Bunga ragu, untuk pertama kalinya iya berani memperotes di rumah ini.


pelayan itu sedikit terkejut. selama bekerja hampir satu bulan di sini. Anak perempuan majikannya itu tidak pernah menyuruh pelayan di rumah ini. Atau berbicara selain pada pelayan peribadinya.


"Oh, memangnya nona tidak suka dengan masakan di rumah ini"? tanya pelayan bernama Ningrum sopan.


"Bukannya tidak suka, Tapi--- masaklah sesuai kebutuhan untuk porsi tiga orang kalau sekiranya sisa makanan dibuang. Atau bagikan saja pada pelayan di rumah ini selagi layak.


"Memang sisa makanan di rumah ini dibagikan pada peayan Non," ucap Ningrum tersenyum sopan pada Bunga.


"Oh. syukurlah kalau begitu."


"Iya Non. kalau begitu Ningrum pergi dulu ya." ucap Ningrum dan Bunga hanya menggangguk.


######


Saat Bunga makan dengan malas. Sarti menghampiri Bunga yang duduk dimeja itu.


Lihat selengkapnya