Mencintai sendirian Bab 13- Tangisan Leon
Untuk pertama kalinya setelah kematian mamanya Leon berdiri di depan kamar papanya. Ia ragu, antara mengetuk atau pergi dari sana, egonya melarangnya. Tapi ia harus melakukan itu demi adiknya Bunga.
"Tok--tok" ketukan di pintu membuat Antoni terjaga dari tidurnya. Siapa gerangan yang mengetuk pintu malam- malam begini. Kalau Sarti yang mengetuk! pastinya dia akan memarahi pelayan itu!
Pintu dibuka, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat putra semata wayangnya berdiri di hadapannya. Tidak ada senyuman dan pelukan seperti dulu. Ia salah, tapi ia tidak pernah menyesal atas kebohongan yang ia perbuat pada putranya.
"Leon." ucap Antoni pelan.
"Aku ingin bicara," ucap Leon. Kalau dulu waktu kecil ia selalu masuk tanpa izin, sekarang ia menunggu papanya mempersilahkan ia masuk.
"Ayo masuk Leon." ucap Antoni yang melihat Leon hanya berdiri di depan pintu kamarnya. Ia berjalan mendahului Leon kesebuah meja kerja di kamar itu, satu-satunya meja kerja milik Antoni Yang tidak pernah diganti sejak puluhan tahun lalu.
Antoni duduk di kursi kerjanya. Sedang Leon hanya duduk di sebrangnya. Keduanya dipisahkan oleh meja tua itu.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Antoni melihat putranya dari dekat. Setelah sebelumnya hanya melihat Leon yang hanya berjalan melewati meja makan ketika pagi berangkat sekolah. Lidahnya kelu, ia ingin meminta maaf dan menjelaskan keputusannya untuk menyembunyikan penyakit istrinya hanya untuk kebaikannya yang saat itu masih di bawah umur, tapi seperti biasa, egonya terlalu tinggi hanya untuk memintaa maaf pada putranya.
"Aku baik, dan sehat, seperti yang papa lihat!" jawab Leon cuek. "Aku kesini untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin papa lupa--" ucap Leon menjeda ucapannya. Tapi sebelum Leon melanjutkan. Terlebil dulu Antoni memotong.
"Hadiah apa yang kamu inginkan di hari ulang tahunmu?" tanya Antoni yang membuat Leon terkejut, pasalnya ditengah kesibukan papanya. pria itu tidak pernah melupakan hari ulang tahunnya sekalipun. Dan orang kedua setelah mamanya yang mengucapkan kalimat itu.
"Aku sudah dewasa. Tak butuh perayaan ulang tahun dan hadiah, papa lupa kalau papa punya anak lain yang hari ulang tahunnya tidak pernah dirayakan sejak masuk dikeluarga ini."