Mencintai sendirian Bab 14- ulang tahun Bunga.
Bunga berdiri menatap pantulannya dicermin, sangat cantik, pikir Bunga. Dia tidak merasa bahwa ia akan secantik ini ketika dirias oleh perias profesional. Gaun biru itu cukup anggun melekat di tubuhnya. Dan seperti biasa tertutup mencerminkan identitasnya yang tak pernah berubah. Dengan rambut hitam panjangnya di gerai indah dengan ada sebuah mahkota kecil di atasnya. Dengan satu set perhiasan berbatu biru bernilai fantastis bemperian papa angkatnya.
"Anda sangat cantik nona, " ucap Bela perias itu yang memuji kecantikan alami yang dimiliki Bunga.
"Aku saja heran? kenapa aku bisa secantik ini ketika kamu menggunkan tangan ajaibmu untuk merubah wajahku."ucap Bunga takjub akan keterampilan tangan perias di sebelahnya. "Anda sangat hebat." Puji Bunga.
"Bukan saya yang hebat, Tapi anda yang sangat cantik." puji Bela.
"Cantik sekali--" Pekik sang sang asisten heboh.
Dan Bunga hanya bisa tersipu malu akan pujian asinten perias di sampingnya. Apa ia cantik? Apa Kakaknya juga akan memujinya? mengingat itu membuat jantung Bunga berdebar.
Ketukan di pintu membuat ketiganya menatap ke pintu yang tertutup. "Biar aku saja." usap sang asisten membuka pintu. Muncullah Leon dengan balutan jas berwarna hitam dengan celana panjang yang hitam yang menambah kesan maskulin pada pria itu. Bunga menatap Leon yang juga terkejut menatapnya. Leon tidak pernah berpikir bahwa adik angkatnya akan secantik ini.
"Pacarnya?" tanya sang perias Bela.
"Bukan, kakak saya." Jawab Bunga.
Leon melangkah masuk. Ia bisa melihat wajah Bunga dari dekat. Rambut hitam panjang nya di gerai indah. Dengan sebuah mahkota kecil dan satu set perhiasan mahal yang melekat di tubuhnya yang membuatnya terlihat cantik malam ini.
"Ayo." ajak Leon mengulurkan tangannya untuk Bunga. Sempat ragu menerima atau menolak. Karena sekarang ia tau bagaimana perasaan yang tidak wajar untuk sang kakak. Demi menetralkan debaran jantung yang menggila, Bunga menatap kearah lain. Tidak berani menatap kemanik mata Leon. Gemas, karena Bunga yang hanya diam. Leon pun menarik tangan Bunga dan melingkarkan tangannya di lenganya.
"Terimakasih sudah membuat adik saya secantik ini" Puji Leon menatap Bunga.
"Nona muda memang terlahir cantik dari lahr. Saya hanya memoles sedikit saja." jawab Bela.
Leon pun hanya mengangguk dan menggandeng tangan Bunga keluar kamar. Lalu masuklah Sarti menunggu mereka membereskan alat make up mereka.
"Aku kira mereka sepasang
kekasih." celeluk sang asisten.
"Mereka hanya kakak beradik. Walau tidak sedarah." jawab Sarti mengungkap fakta.
"Wow -- keduanya cantik dan tampan. Apa tidak ada ketertarikan satu sama lain?" Pekik sang asisten heboh.