Mencintai sendirian Bab 15- Tidak tau balas budi
Bunga dengan gugup memasuki ballroom mewah hotel bintang lima bersama Leon. Dengan suasana elegan dan hangat. Ruangan dihiasi dekorasi bernuansa ungu pastel, putih, dan sentuhan emas yang memberikan kesan anggun serta berkelas. Lampu kristal yang berkilauan menggantung di langit-langit, sementara rangkaian bunga segar menghiasi setiap sudut ruangan.
Di bagian depan ballroom terdapat panggung utama dengan backdrop bertuliskan "Happy 14th Birthday Bunga" yang dihiasi lampu-lampu berkilau, balon dekoratif, dan rangkaian bunga yang indah. Sebuah kue ulang tahun bertingkat berdiri megah di samping panggung.
Semua mata tertuju padanya. Mereka penasaran sosok gadis cantik yang berada disamping sang Tuan muda. Bunga menatap tanpa berkedip tamu-tamu undangan. Mereka memakai pakaian mahal, para pria memakai jas mahal dan sang wanita memakai gaun mewah. Ia merasa minder, ia menatap dirinya sendiri. Apakah ia sudah pantas? Apakah pakaiannya cukup bagus untuk tidak mempermalukan keluarga angkatnya. Semua yang berada dipesta ini adalah orang dewasa dan bisa di hitung jari anak remaja sebayanya. Leon tadi berkata, tidak ada teman-temannya yang akan hadir. Semuanya rekan bisnis papa angkatnya.
Ia melihat Antoni dari kejauhan. Ini kedua kali
mereka bertemu setelah insiden di meja makan. Tadi pagi Antoni mengetuk pintu untuk pertama kalinya, bukan pergi ke kamar Leon seperti dulu. Tapi Antoni berdiri di depan kamanya lalu mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan satu gaun berwarna biru yang dipakainya lengkap dengan satu set perhiasan bernilai fantastik yang berwarna senada dengan gaunnya sebagai hadiah. Dengan terharu ia mengucapkan terimakasih berulang kali. Karena selama hidupnya tidak ada yang memberikan hadiah semahal ini untuk dirinya.
Antoni mendekati putra-putrinya yang sedang sudah beranjak remaja. Termasuk Leon, dia terlihat sangat dewasa dengan setelan jas mahalnya. Antoni mengulurkan tangannya. Bunga terkejut, sempat ia mengira bahwa Antoni mengulurkan tangan untuk kakaknya Leon. Tapi itu pemikiran yang menggelikan untuk Bunga. Karena Leon bukan anak-anak lagi untuk sekedar digandeng. karena ada jarak diantara keduanya setelah Leon kehilangan mamanya.
Tak ada tanggapan, Leon pun memberikan tangan Bunga yang menggandeng lengannya untuk diserahkan pada papanya.
Semua tertuju pada kepada keluarga itu. Mereka penasaran dan bertanya-tanya siapa gerangan gadis remaja itu yang menunduk malu, beberapa asumsi menari dipikiran mereka, apa gadis itu anak haram yang muncul setelah kematian istrinya. Mengingat sangatlah tidak etis keluarga Antoni baru beberapa bulan lalu istrinya meninggal dan kuburannya belum kering kini Antoni mengungundan mereka untuk menghadiri pesta untuk putriya.
Soalah mengerti tentang fikiran kotor dan asumsi dari rekan bisnisnya. Antoni menghampiri mereka dengan menggandeng Bunga di sampingnya.
"Perkenalkan ini putri angkatku," ucap Antoni memperkenalkan Bunga dan mematahkan segala fikiriran negatif dari semua orang yang mengira Bunga anak haram.
"Oh-- aku tidak pernah tau kalau kamu mengadopsi seorang putri?" tanya rekan bisnisnya tertawa.
"Sudah tiga tahun lalu, hanya saja-- aku tidak mempublikasikan karena keadaan Renata"
"Turut berduka cita atas meninggalnya istrimu." ucap mereka semua iba. Suasana yang awalnya biasa saja kini berubah duka.
"Aku sudah ihlas atas kepergian Renata." jawab Antoni tersenyum pedih.
"Ngomong-ngomong putrimu sangat cantik, bolehlah kalau sudah dewasa dijadikan menantu." Celetuk rekan bisnisnya. Semuanya tertawa mendengar perkataan itu.
Leon menghampiri papa dan adiknya. Semua mata tertuju padanya. Calon pewaris keluara Antoni.
"Ini Leon ya? Wah- sudah setinggi ini ya?" ucap sahabat papanya yang lain dan Leon hanya tersenyum sebagai bentuk kesopanan.
"Penerus Antoni-- memang tidak diragukan lagi." Celetuk salah satu istri dari rekan bisnis Antoni. Ia berharap Leon Menjadi menantunya di masa depan.
Antoni meringis mendengar perkataan istri dari rekannya. Mereka belum tahu saja perusahaan nya nyaris bangkrut berada ditangan orang lain yang bukan keluarganya. Bukannya ia terlalu percaya, hanya saja dia tidak punya pilihan karena ia perantauan dari luar kota. Papanya adalah yatim piatu dan mamanya ia tidak tau? Apakah keluarga mamanya ada atau tidak?