Mencintai sendirian

ismiati wardani
Chapter #20

Mencintai Sendirian BAB 20- KEKECEWAAN LEON!

Mencintai Sendirian BAB 20- KEKECEWAAN LEON!

Klub malam itu dipenuhi cahaya lampu berwarna-warni yang bergerak mengikuti irama musik. Dentuman bass terdengar menggema di seluruh ruangan, berpadu dengan sorak-sorai para pengunjung yang memenuhi area dansa. Di sudut ruangan terdapat meja-meja dengan sofa empuk tempat orang-orang berbincang atau menikmati waktu bersama teman-teman mereka. Lampu yang redup menciptakan suasana ramai sekaligus misterius, sementara seorang DJ berdiri di atas panggung memutar musik yang membuat suasana semakin hidup hingga larut malam. Leon duduk bersama teman-temanya menikmati segelas minumam beralkokhol.

Sudah satu minggu berlalu dan Leon mengabaikan Laras! Tidak untuk membuka pesan dari wanita itu atau sekedar mengangakat telfonnya.

"Tumben kamu enggak bawa Laras kemari?" tanya Doni yang meminum segelas Wine dengan pelan.

"Iya tumben, Kamu tidak mengajaknya kemari? Kalian berantem?" tanya Firman ingin tahu. Biasanya Leon dan kekasihnya itu akur-akur saja selama ini. Sudah menjadi rahasia umum kalau Laras adalah pelayan di rumah Leon.

Leon mengabaika keduanya. Ia fokus menghisap rokok untuk menghilangkan segala penatnya.

"Dia berbohong padaku! Dan aku, benci

dibohongi! Walau itu dengan orang yang paling aku cintai," ucap Leon kecewa.

"Memangnya dia berbong tentang apa?" tanya Firman.

"Bukan sesuatu yang besar, tapi sukses membuatku kecewa. Karena aku tidak suka dibohongi!" jawab Leon mematikan putung rokoknya , ia memakai jaket hitamnya yang sebelumnya ia lepaskan, lalu meninggalkan

keempat temannya yang saling pandang.

"Biarkan saja, biasa sepasang kekasih berantem," ucap Doni meminum alkohol dengan tenang.

Dan sontak keempat temannya kembali minum-minum tanpa adanya Leon, mereka berempat bukan teman sekelas Leon, tapi seorang yang lebih tua dari Leon, ada yang sedang kuliah, ada yang putus kuliah menjadi beban keluarga. Setelah kematian mamanya dia tidak lagi berteman dengan teman-temannya dulu, ia memilih menghindar dan menarik diri. Kalau pun ada beberapa teman baru, itu pun hanya dihitung jari dan mereka tidak dekat! Sekedar teman minum atau nongkrong bersama dengan pasangan masing-masing.

Mobil hitam yang ditumpangi Leon menyalip beberapa pengendara, kalau biasanya ia selalu menyempatkan diri pergi ke apartemennya. Kini ia memilih pulang ke rumah untuk menghindari bertemu Laras! Ia yakin Laras tidak akan senekat itu mendekatinya di rumah, terlebih ancaman papanya, bukannya tidak mau bertanya atau mendengar pembelaan Laras. Tapi ia terlalu kecewa atas kebohongan wanita itu dan kecemburuannya yang tidak mendasar!

Sesampainya di rumah, seorang satpam membukakan pagar untuknya. Dan mobilnya memsuki halaman rumah yang tidak terlalu Luas. Rumah Antoni cukup mewah walau tidak terlalu besar dan tidak terlalu modern. Karena rumah itu sudah dibangun sebelum Antoni menikah dengan Renata. Tapi rumah itu menyimpan banyak kenangan bersama almarhumah mamanya. Mengingat mamanya membuat sudut hatinya merasa bersalah! Karena sudah melenceng jauh dari ajaran agama.

Setelah sampai di halaman, Ia menyerahkan kunci pada supir peribadi Bunga untuk dimasukkan

kedalam garasi.

"Tuan muda," ucap Pak Yadi menghentikan langkah Leon yang ingin istirahat.

"Sudah saatnya anda berhenti bermain-main dan fokus pada masa depan anda, wanita itu- bukan wanita baik-baik seperti mama anda yang bisa dijadikan istri, dulu saya diam dan menyimpan rapat rahasia anda karena saya menganggap anda hanya bersenang-senang menikmati masa muda, tapi- usia anda sekarang 17 tahun, hentikan Semua ini! Sebelum papa dan adik anda tau tentang sisi buruk anda!" ucap Pak Yadi untuk pertama kalinya menegur anak majikannya! Bagaimanapun ia tau sosok Leon dulu seperti apa? Hingga kehilangan mengubahnya menjadi sosok yang berbeda.

Leon menatap Yadi datar!" tidak akan ada yang tau kalau kamu tetap tutup mulut!" hanya beberapa kalimat, tapi- itu sukses membuat Yadi terdiam tanpa kata. Ancaman yang Leon beri membuat pria paruh baya itu bungkam untuk waktu yang lama karena tidak ada pilihan. Karena ia butuh pekerjaan ini untuk menafkahi istri dan anaknya di kampung.

Lihat selengkapnya