Mencintai Sendirian BAB 25- PANTI ASUHAN
Bunga memasuki panti asuhan di hadapannya. Tempat ia tinggal selama 3 tahun terakhir, panti asuhan di hadapannya tidaklah besar. Hanya berisi belasan anak yang tersisa. Dulu Renata yang menjadi donatur utama di panti asuhan di panti ini, tapi saat wanita itu meninggal. Panti asuhan dalam keadaan memprihatinkan karena kekurangan dana. Dulu Bunga hanyalah anak kecil yang tidak tau apa-apa? Dan uang jajannya di korupsi oleh pengasuhnya. Lalu, setelah Antoni kembali. Dan iya memegang uang yang cukup, ia memberanikan diri ke panti asuhan. Dan menyisihkan uang jajan dan tabungannya untuk menyumbang di panti ini. Semua ia lakukan diam-diam dari keluarga angkatnya.
Bunga memasuki halaman panti, sontak kedatangannya membuat beberapa anak kecil yang bermain di halaman berlari kearanya dan menarik-narik tangannya.
"Kak Bunga! Akhirnya Kakak datang!" Teriak beberapa anak mengerumini Bunga.
Bunga tersenyum. Ia menunduk, dan mengusap-ngusap kepala anak laki-laki itu yang usianya 7 tahun. "Maafkan kakak Bara, kakak lagi sibuk akhir-akhir ini." Bohong Bunga. Padahal ia lagi galau memmikirkan hati dan perasaannya.
"Ayo Kak....! kita masuk kedalam." Seorang anak lain menarik Bunga untuk masuk dalam panti. Bersama beberapa anak lain.
Bunga duduk di lantai. Ia mengeluarkan beberapa nasi kotak yang dibelinya dan sekantong buah-buahan dari kresek besar, ia membagikanya dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya bersama 2 pengasuh lain. Anak-anak saling berebut karena ia bisa makan enak hari ini. Ya itu, ikan ayam, serta bebrapa tumisan dan juga sambal. Cirikhas masakan padang.
"Kamu anak yang sangat baik. Dan berhati malaikat Bunga, siapa yang sangka? Anak asuh yang dulu di pandang sebelah mata, kini menjadi donatur panti ini," ucap Inem pengasuh yang dulu memperlakukann Bunga dengan tidak baik. Karena Bunga adalah yatim piatu, dan dia bisa di bilang bodoh! Dan tidak punya bakat apa pun, tapi satu yang ia miliki. Yang tidak dimiliki anak lain. Yaitu, kebaikan hatinya yang membantu anak lain yang memikat Renata untuk mengadopsinya.
"Bibik. Sangat berlebihan, saya belum bisa disebut donatur. Karena uang yang saya sisihkan tidak sebanyak itu," ucap Bunga tertawa.
Selalu seperti ini jawaban yang ditetima Inem kalau menyinggung kebaikan Bunga. "Kamu anak baik. Allah akan membalas kebaikanmu dengan memberikan apa yang kamu pinta. Termasuk jodoh yang baik dunia akhirat," ucap Inem tulus.
"Biar Bibik potong-potong buahnya ya?" ucap Inem pergi kebelakang.