1. MELEPAS YANG TAK PERNAH DIGENGGAM
Beberapa bulan sebelum hari ini.
“Kamu boleh melepaskan aku sekarang.”
Aku tak pernah menyangka bahwa kata-kata bernada penuh kekecewaan dan kepasrahan bisa keluar begitu saja dari bibir Rinai. Bahkan ketika aku tidak bisa menerima saat dia menyatakan cinta, wanita pemilik smiling eyes yang khas itu masih bisa tersenyum dengan begitu tegar. Dia tampak begitu lapang mendengar jawabanku karena katanya kala itu dia hanya ingin mengungkapkan perasaannya saja.
Namun kini, sorot mata yang selalu terlihat hangat─walau dia jarang sekali dengan terang-terangan menatapku─kini tampak begitu dingin dan lemah. Aku tidak tahu kalau dia bisa tampak sehancur itu. Namun, entah kenapa sulit sekali rasanya bibirku mengutarakan sedalam apa ketakutanku kali ini.
Tidak! Jangan pergi! Begitu kuulang kata-kata itu dalam hati.
“Apa maksudmu, hm?” Meski mungkin aku paham yang dimaksud wanita yang sudah menjadi istriku selama beberapa bulan ini, tetapi aku tetap ingin mendengar langsung jawabannya.
Kali ini wanita itu mencoba menghapus air mata yang sejak tadi membanjiri wajahnya dengan punggung tangan. Dia mengangguk sambil menarik kedua ujung bibirnya. “Mari kita bercerai.”
“Rinai!” Baru kali ini aku menaikkan nada suaraku di hadapannya. Selama ini aku selalu bersikap baik padanya. Tak pernah ada masalah berarti di antara kami yang menyebabkan aku begitu marah seperti sekarang. Meski aku pernah mendiamkannya beberapa kali, tapi tidak dengan membentaknya seperti ini. “Aku tidak pernah berniat menikah untuk kemudian bercerai. Kamu tahu itu.” Nada suaraku melunak karena melihat ekspresi kaget di wajahnya.
“Tapi sejak awal aku tahu hari ini akan tiba. Ketika perempuan itu datang lagi di hidupmu dan aku … tentu takkan membiarkan kamu memilih antara aku dan dia. Kamu boleh pergi padanya. Bukankah itu yang selalu kamu harapkan selama ini?”
“Beri aku waktu untuk menjelaskan─”
Rinai menggeleng dengan cepat. “Katakan padaku! Jika memang kamu berniat menjelaskan semuanya, kenapa nggak sedari awal kamu melakukannya?”
Jika biasanya dia tak pernah berani menatapku dalam waktu yang lama, tidak dengan kali ini. Kami berdiri sehadapan di dekat bibir ranjang. Dan sekalinya tatap itu terpaku padaku, yang kulihat justru sorot kesedihan, bukan kebahagiaan.
“Rinai, Sayang, dengarkan aku. Semua ini nggak tak seperti yang kamu pikirkan.”
“Sudah sejelas itu, Ibra.” Rinai memotong sebelum aku menyelesaikan kalimatku. “Sudah seterang itu. Apa yang menjadi pertanyaan di kepalaku selama beberapa pekan ini terjawab sudah.”