Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #3

2. Temu yang Tak Terduga

2. TEMU YANG TAK TERDUGA

 

Hari ini.

Saat mobil Bibi Maura yang dikemudikan Mamang Salim memasuki pelataran rumah mereka, aku melihat sebuah X-Pander putih terparkir di sana. Jantungku seketika bertalu kencang. Aku jelas tahu betul pemiliknya. Meski tiga bulan sudah aku pergi meninggalkannya, tetapi aku takkan lupa nomor plat yang ada di belakang kendaraan itu.

“Kenapa dia ada di sini?” Aku yang duduk di jok barisan ke dua hanya bisa bersuara lirih dalam debaran yang tak bisa kukendalikan.

Bibi Maura yang ada di jok samping kemudi menoleh ke arahku. “Bibi sudah mengizinkannya datang. Kalian tidak bisa selamanya seperti ini.”

Aku hanya bisa memejamkan mata sebentar tanpa bermaksud menyalahkan wanita empat puluh tahunan itu. Aku juga tahu bahwa yang disampaikan Bibi Maura barusan benar adanya. Namun, tak kukira dia akan datang kemari hanya dalam waktu tiga bulan setelah aku pergi.

Jika ditanya, maka aku tak akan pernah merasa siap untuk bertemu kembali dengannya.

Begitu mobil Mamang Salim sudah terparkir dengan baik di samping mobil putih itu, Bibi Maura segera turun. Aku mengikuti dari belakang. Suasana di sekitar rumah Bibi Maura, juga rumah Enin dan dia, memang tidak pernah ramai meski di saat sore hari seperti ini. Pun meski ada mobilnya, aku tidak melihat dia ada di depan rumah.

Namun, saat aku baru saja menutup pintu mobil, suaranya sudah bisa tertangkap telingaku. Membuat tubuhku terasa kaku meski hanya untuk melangkah. Aku benar-benar harus menyiapkan hati menghadapinya di kala seperti ini. Di saat yang tidak aku inginkan.

“Bi, sehat?” Dia menyalami Bibi yang sudah lebih dulu berjalan ke arahnya.

“Sehat atuh, alhamdulillah. Kamu pasti juga sehat, kan, makanya bisa kemari? Ya, meskipun kamu terlihat sedikit kucel dan kurusan sejak terakhir kita bertemu di pesta pernikahan kamu.” Bibi Maura malah bergurau.

“Kan, yang ngurusin akunya juga nggak ada, Bi,” timpalnya dengan nada suara seolah ingin dikasihani.

Aku tersentak.

Lantas, diam-diam kuperhatikan wajah dan tubuhnya dari jarak yang tidak sedekat Bibi karena aku masih bergeming di samping pintu mobil. Benar saja. Wajahnya tampak lebih tirus. Meski dia masih terlihat begitu tampan, tapi dia tidak sesegar biasanya. Tubuhnya pun tidak seberisi sebelumnya. 

Lihat selengkapnya