3. DITINGGALKAN TANPA ALASAN
Beberapa bulan sebelum hari pernikahan.
“Aku mencintaimu, Ibra. Aku mencintaimu sejak dulu, sejak hari pertama ospek di kampus kita dulu.”
Sebenarnya, aku sering mendapatkan pernyataan cinta semacam itu dari berbagai jenis wanita selama ini. Aku juga tidak tahu kenapa mereka sampai berani menyatakan perasaannya pada seorang laki-laki yang jelas-jelas hal itu bisa membuat harga dirinya seolah jatuh di mata sebagian orang—dan aku tidak termasuk dalam sebagian orang itu.
“Mungkin karena tampang kamu yang kayak bule.”
Itu adalah jawaban Reysa—sahabat sekaligus sekretaris pribadiku—saat aku bertanya padanya perihal ketertarikan para gadis itu. Aku terbahak mendengarnya. Tidak bisa dipungkiri memang tampang kebaratan yang aku punya membuat parasku terlihat di atas rata-rata.
“Kamu juga punya tingkat percaya diri yang tinggi. Cewek-cewek suka sama cowok begitu biasanya, sih.”
Lagi, wanita berpipi tirus itu mengungkapkan pendapatnya. Kembali aku tidak bisa mengelak lantaran memang begitulah adanya. Aku memang lelaki yang memiliki rasa percaya tinggi dan itu membuat aku terlihat lebih menonjol dibanding lelaki lain di dalam lingkunganku. Meski begitu, aku bukan lelaki yang sombong dan senang membanggakan diri di hadapan orang lain.
“Kalau gitu, kenapa kamu nggak tertarik sama aku?” Aku malah balik bertanya karena ingin tahu dengan reaksinya.
Wanita berdarahketurunan itu hanya mendelik tajam sambil mendengkus. “Itu karena aku spesial dan antimainstream.”
Aku lantas terbahak dan membenarkan di hati jawabannya. Dia memang istimewa dan lain dari yang lain. Sebab itu, Reysa menjadi satu-satunya wanita yang bisa dekat denganku dalam waktu yang begitu lama.
“Satu lagi, kamu sok cool dan sok misterius.”
Itu jawaban pamungkas yang diucapkan gadis keturunan yang sudah dekat denganku selama hampir sepuluh tahun ini. Kali itu aku tidak terbahak, melainkan menatapnya dengan mata memicing. “Bukan sok, tapi memang begitu.”
“Tapi kalau sama aku kamu nggak ada sisi cool dan sisi misteriusnya sama sekali.” Dia melayangkan protesnya sambil memajukan bibir. Suatu hal yang sering membuat dadaku berdenyut kencang saat melihat pemandangan begitu.