4. LAMARAN SALAH ALAMAT?
Hari lamaran.
Aku pikir, patah hati terbesarku adalah saat pernyataan cintaku pada Ibra mendapatkan penolakan. Walau aku tahu sejak awal bahwa lelaki itu hanya mencintai Reysa, sahabatnya sekaligus temanku, tetapi aku tetap merasakan sakit saat dia mengatakannya di hadapanku langsung. Meski dia menolakku dengan bahasa paling halus sekalipun, nyatanya aku tetap terluka.
Namun, aku rupanya keliru. Ada hari di mana aku merasakan sakit yang lebih sakit dari saat itu. Hari ketika Reysa pergi dari sisi Ibra dengan tiba-tiba menjadi hari paling kelam untukku karena setelahnya, aku tidak bisa lagi melihat binar di mata Ibra. Bahkan, cahaya itu bukan hanya meredup, tapi padam dan menghilang seiring dengan kepergian pria itu dari Kota Hujan.
“Pak Ibra sedang ke desanya di Pangandaran. Kakeknya sakit dan beliau sengaja pergi ke sana dua hari lalu.”
Aku memberanikan diri bertanya pada salah satu karyawan di perusahaan penerbitan milik Ibra yang ada di pusat kota. Letaknya memang searah dengan kantor tempatku bekerja. Jadi, karena dalam beberapa hari belakangan aku tidak bisa melihat dia yang diam-diam memperhatikanku dari ujung jalan saat akan berangkat dan pulang bekerja, kuputuskan untuk mencari tahu keberadaannya.
Aku tahu Ibra melakukan hal itu sebagai bentuk tanggung jawabnya yang sudah menabrakku berminggu-minggu lalu. Meski itu bukan sepenuhnya salah Ibra, tetapi dia bersikeras untuk bertanggung jawab dengan mengantarjemputku selama kondisi kakiku masih terpincang-pincang. Dia memang pria baik dan karena itu, tidak ada alasan bagiku tidak mencintainya.
Sebuah notifikasi di ponsel membuatku mengalihkan tatap pada benda pipih itu. Beberapa chat dari teman alumni seangkatan di grup WhatsApp alumni kampus mempertanyakan Reysa yang left dari grup tanpa izin. Mereka juga mengabari bahwa nomor Reysa sudah tak aktif. Beberapa yang tahu Reysa bekerja pada Ibra bahkan menanyakan perihal itu pada pria kebulean yang pernah menjabat ketua HIMA saat kuliah dulu.
[Aku nggak tahu Reysa ke mana. Dia sudah resign dari kantorku. Sekarang aku sedang di Pangandaran. Abahku sedang sakit. Jadi, mohon doanya dari kalian untuk kesembuhan Abah, ya. Terima kasih.]
Aku terperenyak membaca pesan balasan dari Ibra dan bisa langsung kusimpulkan bahwa kepergian lelaki itu mungkin saja ada hubungannya dengan kepergian Reysa yang tiba-tiba. Buktinya, hingga satu bulan ke depan aku nyaris gila karena benar-benar tidak menemukan sosoknya di mana-mana. Orang kantornya pun mengatakan bahwa Ibra masih di Pangandaran dan belum tahu akan pulang kapan.
“Pak Ibra mengurus pekerjaannya dari sana dan ada rekannya yang membantu beliau di sini.”