5. MEMBERINYA KEYAKINAN
Setelah Reysa pergi, aku terus merutuki diri karena merasa terlambat memberikan kepastian pada wanita berkulit pucat itu. Beberapa pekan berada dalam penyesalan panjang membuatku kehilangan arah. Selama beberapa tahun bersahabat dengan wanita keturunan Tionghoa itu, aku belum pernah berpisah dengannya, terlebih ditinggalkan seperti ini.
Bahkan, ketika Reysa memutuskan menerima lamaran seorang pengusaha di Bogor atas permintaan kedua orang tuanya, aku tak pernah merasa kehilangan dia sedikit pun. Layaknya sahabat dan rekan kerja, dia selalu ada dalam jarak aman yang membuatku bisa leluasa melihatnya kapan saja.
“Kamu nggak cemburu dengan kedekatan aku dan Ibra?” Suatu hari, Reysa pernah dengan beraninya menanyakan hal itu pada Boy, calon suaminya itu.
Pria yang juga berketurunan Chinese itu hanya mengedikkan bahu tanda tak peduli sambil tersenyum cuek. “Walau kalian dekat dan ada apa-apa di belakangku, kamu tetap harus menikah denganku bukan? Pernikahan kita sudah diatur sedemikian rupa satu tahun dari sekarang.”
Nyatanya, Reysa kesal setengah mati setelah makan malam itu. Jawaban yang diucapkan Boy benar-benar bukan yang diharapkan Reysa dan aku justru merasa menang saat itu. Dari hal itu, aku tahu kalau Boy tidak mencintai Reysa seperti aku mencintainya.
Kini, haruskah aku menanyakan kepergian Reysa pada pria itu? Apakah dia mengatakan alasan kepergiannya pada Boy? Apakah mereka akan tetap melanjutkan pernikahan mereka yang akan digelar beberapa bulan lagi? Atau jangan-jangan, Reysa pergi bersama Boy? Haruskah aku menyerah dan mulai melupakan Reysa?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berputar dalam kepalaku sejak aku tiba di desa Parigi, Pangandaran. Meski tujuan utamaku datang ke desa adalah untuk melihat kondisi Abah—ayah dari mendiang ibuku—yang sedang sakit, tetapi aku juga punya misi lain selain itu. Aku memang ingin menyembuhkan luka patah hatiku karena di Bogor, aku kesulitan melakukannya.
“Kondisi Abah teh udah baikan, Ibra. Tapi kenapa kamu masih sering bengong gitu?” Suara sepuh Enin menyapaku yang tengah melamun di beranda rumah sambil memandang lurus ke arah halaman yang berdekatan dengan jalan raya.
“Iya, Ibra. Bibi perhatiin teh kamu kayak yang lagi galau gitu semenjak datang kemari.” Bibi Maura, adik kandung mendiang Mama ikut menimpali perkataan Enin.
Sudah sepekan lebih aku meninggalkan Bogor dan pikiranku makin sesak saja rasanya. Namun sejak beberapa malam terakhir, aku bukan hanya memikirkan kepergian Reysa, tetapi juga tentang hatiku yang merasa damai setiap kali mendengar Nispi, adik sepupuku yang merupakan anak pertama Bibi Maura menghafalkan ayat Al-Qur’an bersama adiknya, Reyhan.