Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #7

6. Selepas Akad

6. SELEPAS AKAD

 

Hari pernikahan.

Aku bingung antara harus bahagia dan sedih. Setelah bertahun-tahun menyimpan perasaan cinta yang begitu meremukredamkan hati ini, akhirnya aku bisa “memiliki”nya. Sebenarnya, entah kata “memiliki” itu tepat atau tidak. Aku tak tahu bagian mana dari lelaki itu yang kini kumiliki.

Hatinya? Tidak sama sekali.

Cintanya? Bahkan mungkin ia sudah menghabiskan semua cintanya untuk wanita itu.

Raganya? Mustahil.

Mungkin yang lebih tepat disebut sebagai milikku hanyalah status sebagai istrinya yang sah, di mata agama dan hukum. Meski dengan itu, tidak lantas kebahagiaanku menjadi sempurna. Namun, aku akan mempergunakan kesempatan ini dengan baik sebab dengan menjadi istrinya, aku takkan jauh dari lelaki itu.

Ya. Sekitar lima jam yang lalu, akad nikah selesai digelar. Sebuah kalimat sakral sudah berhasil dia ucapkan dengan lantang dan lancar di hadapan penghulu, wali—yang tak lain adalah bapakku, para saksi dan tamu undangan. Dan kami, kini tengah berdiri di pelaminan, menjadi raja dan ratu sehari dalam resepsi bergaya Sunda. Kami menyalami satu per satu tamu undangan yang hadir memberi ucapan selamat dan doa.

Sebelumnya, tak pernah terbayangkan di benakku untuk memiliki acara resepsi pernikahan sedemikian mewah, menurutku—karena mungkin bagi orang lain ini tidak ada apa-apanya. Semuanya serba “wah”. Gedung, dekorasi, pakaian dan riasan pengantin, catering, bahkan sampai cinderamata sebagai ucapan terima kasih pun benar-benar di luar perkiraanku.

“Pernikahan itu sekali untuk seumur hidup. Jika memang ada rezekinya, apa salahnya kita mengadakan resepsi seperti ini? Lagi pula kenalan kita juga banyak orang penting. Bagaimana? Kamu setuju?” ujarnya beberapa waktu lalu saat kami selesai meeting dengan wedding organizer paling ternama di kota ini.

Aku tak bisa membantah, hanya bisa mengiakan apa yang dia mau. Sementara itu, benakku terus berpikir, Apa pernikahan seperti ini yang sudah ia siapkan untuk wanita itu? Atau, bahkan mungkin sebenarnya ini semua memang sudah direncanakan jauh sebelum dia memutuskan menikahiku?

Pria yang sekarang menjadi suamiku memang tidak mencintaiku, tetapi aku mencintainya, sangat dalam. Entah kenapa ia bisa dengan yakin melamarku sebulan yang lalu. Padahal sebelumnya, jelas-jelas ia sudah menolak pernyataan cintaku. Apa pikiran orang bisa berubah begitu cepat? Entahlah.

Lihat selengkapnya