Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #8

7. Penyerahan Diri

7. PENYERAHAN DIRI

 

Malam pernikahan.

Meski Ibu dan Bapak juga saudara dan kerabatku bersikeras meminta aku dan Ibra menginap, tetapi aku pun tak kalah bersikeras meminta Ibra untuk membawaku ke luar—ke apartemennya seperti yang dia janjikan sebelumnya. Aku tak mau kami menjadi bahan candaan mereka selepas pesta usai.

Bukan tanpa alasan, beberapa kali aku pernah memperhatikan hal serupa pada sepupu-sepupuku yang menikah. Candaan atau ledekan seputar pernikahan dan bahkan malam pertama tak segan-segan dilontarkan pada sepasang pengantin baru.

"Aku takut kamu nggak nyaman." Begitu jawabanku saat Ibra bertanya kenapa aku tak mau menginap di rumah Ibu dan Bapak.

"Lho, aku kan perlu membiasakan diri juga berada di tengah-tengah keluargamu. Kamu pikir aku akan merajuk kalaupun aku merasa tak nyaman?" Dia terlihat serius sekali saat menimpali jawabanku.

Aku hanya mengangkat bahu sambil menggeleng. "Aku lihat kamu nggak terlalu senang berada di tengah-tengah orang yang nggak dekat sama kamu." Aku berdalih lagi. Hening sejenak sebelum aku putuskan untuk jujur. "Lagi pula, aku nggak mau mereka tahu kalau aku menikah bukan dengan pria yang mencintaiku."

Dia malah tergelak. "Kamu masih saja begitu. Padahal, jelas-jelas aku serius menikahimu dan menjadikanmu istri. Mereka akan melihat bagaimana aku meratukanmu."

Kali ini aku yang tergelak. Bisa saja dia memberi alasan. Namun, aku tak berniat menimpali. Aku hanya diam sampai kami tiba di gedung apartemen. Dia memarkirkan mobilnya di basement dan setelahnya, dia mengajakku turun sambil membawa perlengkapanku yang tidak terlalu banyak. Hanya satu koper dan satu tas besar.

Tentu aku sudah pernah Ibra ajak kemari dua pekan setelah dia melamarku. Waktu itu dia membawa Ibu dan Bapak turut serta untuk menunjukkan tempat tinggal kami setelah menikah. Jadi, aku tak terlalu asing dengan tempat ini.

"Rinai Qaitsa Anjani, mulai saat ini, unit apartemenku ini adalah milikmu juga. Kamu bebas melakukan apa pun di rumah ini," ujarnya setelah memencet digit-digit nomor sebagai kode akses unitnya. Pria yang mengenakan kaus polos hitam dengan celana denim itu membuka pintu lebar-lebar seraya merentangkan satu tangan dan menaruh satu lagi tangannya di depan dada. Tubuhnya sedikit membungkuk dengan senyuman yang begitu manis bertengger di bibirnya.

"Terima kasih, Suamiku." Aku membalas gurauannya.

Sejujurnya, sedari keluar dari rumah Ibu dan Bapak, kegugupan menyerangku tiba-tiba. Membayangkan akan hidup berdua saja dengan Ibra—yang notabene adalah pria yang kucintai selama bertahun-tahun—tentu membuatku berdebar-debar. Meski pernikahan ini tidak dilandasi cinta seperti yang dilakukan banyak orang, tapi hubungan kami sah di mata hukum dan agama.

"Biarlah Ibra memiliki masa lalu. Yang terpenting, kamu adalah masa kininya, dan semoga menjadi masa depannya juga. Jadilah istri yang baik untuknya. Layani dia sebaik mungkin. Raih keberkahan dalam pernikahanmu sebanyak mungkin." Begitu petuah Ibu saat aku berpamitan padanya tadi.

Padahal sebelumnya, jelas-jelas aku tak akan menyerahkan diriku lebih dulu hingga aku merasa siap. Maksudnya, aku takut kalau-kalau Ibra melakukannya sambil membayangkan wanita itu. Namun, nasihat Ibu perkara aku yang kini sudah memiliki kewajiban terhadap suamiku rupanya membuatku tersadar. Bahwa kini, baktiku pada Ibra lebih utama ketimbang pikiran-pikiranku itu.

Tak lupa Bapak menambahkan, "Kalau bisa, tutup juga auratmu setelah menikah, Nai." Yang tentu aku sambut dengan senyuman saja. Perkara itu, aku memang belum bisa menuruti maunya Bapak. Walau dalam hati terdalam, aku juga mau melakukannya. Hanya saja, rasanya itu bukan perkara mudah, ya?

Lihat selengkapnya