8. RASA ASING YANG PALING SYAHDU
“Kalau ada yang nggak nyaman, bilang, ya.” Meski rasa lega memenuhi diriku sekarang, tapi aku juga kasian pada wanita yang sudah kunikahi ini. Ini yang pertama bagi kami, wajar jika ada rasa tak nyaman, bukan? Namun, aku tetap tak menyangka jika ternyata ikatan halal ini bisa memberikan suatu kenikmatan luar biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Selama berdekatan dengan Reysa dulu, rasanya keinginan untuk melakukan hal-hal yang mengarah pada keintiman tak pernah muncul dalam diriku. Aku memang ingin dia berada dalam jarak yang aman denganku. Tapi untuk melakukan hal seperti menyentuhnya, aku tidak terpikir ke arah sana.
Maka, ketika tadi untuk pertama kalinya aku menghadapi Rinai yang tengah mencoba menggodaku—dan sungguh, itu hal luar biasa bagiku, naluri kelelakianku terbangkitkan begitu saja. Terlebih saat dia terus menyentuhku, mencoba menggodaku, keinginan untuk memiikinya seolah tak terbendung.
"Terima kasih, ya, Ibra." Suara Rinai tak terlalu jelas walau masih bisa kudengar, berkejaran dengan deras hujan yang jatuh di atas plafon di balkon sana.
Aku menoleh dan mendapatinya tengah menerawang. "Terima kasih untuk?"
"Banyak," jawabnya cepat. "Salah satunya, karena kamu mau menunaikan kewajibanmu."
Aku bingung dengan apa yang diungkapkan Rinai. Sebab, sebelumnya dia bahkan meminta waktuku untuk kesiapannya itu. Tapi yang tadi dia lakukan justru berbanding terbalik dengan ucapannya tempo hari.
"Bukannya kamu memintaku menunggu kamu siap?" Akhirnya aku mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku.
Dia lantas bangkit dengan sedikit meringis. "Aku pikir aku akan egois jika melakukan itu. Walau kamu nggak cinta aku, tapi ya tujuan lelaki normal menikah salah satunya untuk itu, kan? Aku takut menjadi istri durhaka yang membuat suamiku menunggu. Ibu juga bilang kalau aku harus jadi istri yang berbakti dan selalu bersedia melayani suami sebaik mungkin. Selain itu, aku juga penasaran ...."
Dia menggantung kalimatnya, dan aku merasa gemas karena melihat tatapan jahilnya. "Penasaran apa?"
Tak menjawab tanyaku, dia malah menggeleng. "Lupakan saja. Aku mau bersih-bersih dulu. Kamu merem donk, jangan lihatin aku. Aku mau ke kamar mandi."
Oh, kenapa Rinai bisa tampak menggemaskan seperti ini? Gadis lugu yang selama ini aku kenal ternyata bisa membuatku merasa gemas sekaligus terlena dalam waktu bersamaan. "Bukannya aku sudah lihat semua tadi? Kenapa mesti malu?" godaku yang membuatnya merona.
Dia malah menarik selimut dan menutup wajahku dengan selimut itu. "Maaf aku harus melakukan ini," katanya yang sepertinya langsung bangkit.
Aku hanya terkekeh pelan dan meski penasaran, aku menurutinya kali ini. Untuk bermenit-menit kemudian, aku hanya berdiam diri di atas ranjang. Kulihat sesuatu yang asing di atas seprai sebagai pertanda bahwa kewajibanku telah tertunaikan dan bakti istriku telah tersampaikan.
Ada sekelumit perasaan senang dalam hatiku, juga perasaan menang. Entah karena apa. Tapi rasa-rasanya hal ini bisa menjadi salah satu pencapaian terbesarku dalam hidup. Tak salah rupanya aku menikahi wanita yang pandai menjaga diri—juga hatinya—seperti Rinai.