Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #10

9. Pengabdian Seorang Istri

9. PENGABDIAN SEORANG ISTRI

 

Pagi pertama setelah halal.

"Ibra ...." Entah untuk keberapa kali aku memanggil-manggil nama pria yang sudah menghalalkanku kemarin sedari aku selesai mandi setengah jam lalu. Sekarang, jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Sebentar lagi adzan Subuh pasti akan berkumandang. Dia bahkan harus mandi wajib dulu sebelum shalat, kan?

Karena panggilanku tak mendapat sahutan satu kali pun, maka kuputuskan untuk membangunkan pria itu dengan cara lain. Aku dekatkan wajahku ke arahnya. Kuelus pelan pipinya. Dia menggeliat perlahan. Hingga, sengaja aku menyibakkan rambut basahku tepat di depan parasnya yang memang kebulean, memainkannya di sana.

Dia mungkin terganggu karena setelahnya kelopak mata Ibra langsung terbuka.

"Udah mau subuh, Ibra. Kamu harus mandi dulu sebelum shalat." Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa melihat ekspresi bingungnya. "Maaf ya aku harus membangunkanmu dengan cara seperti itu. Habisnya kamu susah banget dibangunin."

Aku memilih berjalan ke arah sisi kamar, tempat aku menyimpan mukenaku semalam saat membereskan barang bawaan dari rumah. Saat aku mengenakan mukena peach milikku, terdengar suara Ibra dari luar kamar mandi. "Aku sudah hafal bacaan shalat dan bisa shalat dengan lancar, kok."

Mendengar kalimatnya, aku mengerutkan dahi. "Lalu?"

"Kamu mau shalat berjamaah denganku dan menjadi makmumku?" tanyanya dengan sedikit nada ragu.

Tentu aku mengangguk antusias sambil menyunggingkan bibir. "Aku tunggu, ya."

Maka, aku pun menyiapkan perlengkapan shalatnya sekaligus tempat untuk kami melaksanakan shalat Subuh berjamaah di kamar Ibra yang lumayan luas. Ada baju koko hijau pupus dengan kain sarung hitam serta peci putih yang kusiapkan di atas kasur.

Selepas mandi, Ibra mendekat ke arah ranjang dan mengenakan apa yang sudah kusiapkan, termasuk dalaman. Aku tak melihat ke arahnya saat ia berpakaian. Barulah saat Ibra mengancingkan baju kokonya, aku turut serta membantu.

Kami langsung melaksanakan shalat Subuh berjamaah dengan khusyuk. Aku dengar bacaan shalat dan gerakannya pun sudah cukup fasih meski pria itu mengaku muallaf selama dua bulan lalu. Oh, aku lupa kalau dia terbiasa berada di lingkungan muslim sejak kecil.

Hatiku merasa hangat mendapati kenyataan bahwa kini aku memiliki seorang imam lain setelah lepas dari Bapak. Pria yang kucintai selama bertahun-tahun ini bisa memimpinku dalam shalat dan aku senang karenanya. Meski ini hal sederhana, tapi bagiku justru ini amatlah berarti.

"Terima kasih, Rinai." Dia mengucapkan itu saat kami duduk bersila berhadapan usai berdzikir selepas shalat ditunaikan. Aku lantas mencium tangannya takzim dan dia pun melakukan hal serupa.

"Jangan selalu berterima kasih, Ibra. Ini semua memang sudah kewajibanku, bukan?"

Dia menggeleng dan raut wajahnya berubah jadi sendu. Seumur-umur, baru kali ini aku melihat raut sedih dari seorang Ibra. Bahkan, ketika dia ditinggal Reysa pergi pun, aku tak sempat menyaksikan sesedih apa raut wajahnya.

"Kamu tahu? Aku tak pernah mengira akan bisa menikah dan memiliki istri sebaik kamu. Aku seorang apatis yang memutuskan untuk tidak menikah awalnya. Mungkin, itu sebabnya aku lambat bergerak perihal perasaanku terdahulu. Tapi setelah aku muallaf, aku menemukan titik terang. Keluargaku menyuruhku menikah dan aku menyetujuinya. Yang terlintas di pikiranku kala itu memang hanya kamu. Beruntungnya aku karena kamu mau menerima."

Aku sungguh merasa tersanjung karena dia mau bercerita padaku perihal ini. Pantaslah dulu dia tak kunjung mengungkapkan perasaannya pada Reysa. Mungkin itu karena dia tak bisa memberikan kepastian sebuah hubungan dan juga masa depan untuk wanita itu.

Lihat selengkapnya