10. RUANG KOSONG YANG PELAN-PELAN TERISI
"Rinai, kamu mau menemaniku menemui Bibi Maura dan Paman Salim di hotel dekat sini? Mereka akan pulang sore ini ke Pangandaran."
Sepertinya Rinai masih agak lelah, jadi aku harus memastikan apa dia mau turut serta atau tidak menemui perwakilan keluargaku yang datang di pesta pernikahan kami kemarin. Hanya Bibi Maura, suami dan anak-anaknya yang hadir karena Abah dan Enin sudah tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Pun aku meminta Bibi agar tidak perlu mengundang kerabat atau tetangga di sana.
"Tentu, Ibra. Kapan?" jawabnya dengan raut semringah. Dia baru saja selesai mandi setelah kami bangun jam sembilan tadi.
"Sebentar lagi. Kamu boleh siap-siap dulu. Nanti kita sekalian makan siang bareng sama mereka, ya. Kamu keberatan nggak?"
"Boleh, Ibra. Kamu nggak perlu nanya aku keberatan atau nggak. Kamu cukup ajak aku dan aku akan ikut ke mana pun kamu membawaku. Ke mana Ibra yang selalu percaya diri itu, hm?" Dia bicara sambil memilih-milih pakaian dari lemari yang sudah disediakan khusus untuk pakaiannya sebelum kami menikah kemarin.
Aku menghampirinya dan lantas memeluknya dari belakang. "Mungkin Ibra yang itu sudah pergi saat akad nikah kemarin," ceracauku sambil menghidu rambut Rinai yang tergerai. Dia memang tak keramas lagi barusan karena kami pun hanya tidur selama beberapa jam selepas Subuh, tapi aroma di rambutnya begitu memabukkan. "Hmm, kamu wangi banget, sih."
Rinai yang masih mengenakan bathrobe mengusap-usap pelan lenganku. "Jangan-jangan kamu punya kepribadian ganda, ya?" Dia terkikik geli.
Bisa juga dia bergurau padaku seperti itu? Lalu, karena pura-pura tak terima dia mencandaiku begitu, aku pun menggelitikinya hingga dia berbalik dan memohon. "Iya, iya, maaf. Ampun."
"Kamu harus aku hukum pokoknya!"
Dia mengernyit saat kami berpandangan. "Hukuman seperti apa?"
"Hm, nggak tahu atau pura-pura nggak tahu?" bisikku di telinganya.
"Halah, kamu tuh, ya!." Dia malah memukul pelan pundakku sambil berlari ke sisi ranjang. Aku lantas mengikuti geraknya. "Tapi bukannya kita akan menemui Bibi Maura?"
Aku mengangguk. "Bibi akan mengerti kalau kita datang sedikit terlambat," tenangku yang dibalas senyuman dari wanita itu.
Mungkin ini yang orang-orang bilang kalau hari-hari selepas akad adalah hari-hari yang melelahkan sekaligus memabukkan. Nyatanya baru saja sehari kami menikah, aku sudah dibuat tergila-gila olehnya.
Sejak Rinai dengan penuh kerelaan melakukan bakti pertamanya padaku, sejak aku pertama kali menunaikan kewajibanku dalam ikatan yang halal ini, aku merasa ada bagian yang kosong dalam diriku yang terpenuhi begitu saja. Entah itu apa. Aku belum terlalu memahaminya.