Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #12

11. Hari-hari Bak Mimpi

11. HARI-HARI BAK MIMPI

 

Hari-hari setelah pernikahan.

Hari selepas pernikahan harus berjalan seperti biasa. Rutinitas kami kembali disibukkan dengan urusan pekerjaan. Ibra sebagai pemilik sebuah penerbitan, dan aku sebagai seorang sekretaris di sebuah yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan.

"Aku kira kamu ambil cuti, Rinai," ujar Ibra, terdengar sedikit merajuk.

Aku bisa merasakan tangan Ibra melingkar di perutku sementara kepalanya menempel di pundakku yang tertutup blus berwarna marun. Aku tengah menyiapkan sarapan di meja makan dan mendapati tingkahnya yang seperti ini, refleks gerakku terhenti. Debar jantungku langsung meningkat begitu saja.

Jika saja dia tahu, ini sungguh seperti mimpi yang selama ini menemani hari-hariku. Ada dia, pria yang aku cintai dalam mimpi-mimpi itu. Kini, mimpi itu mewujud nyata. Bagaimana aku tidak bahagia dan semakin terjatuh pada pria yang sudah menghalalkanku ini.

"Memangnya kamu mau aku ambil cuti? Aku pikir, kan, kita nggak ada rencana ke mana-mana makanya aku nggak ambil cuti." Aku mengusap pelan pipi Ibra yang rasanya agak hangat pagi ini. "Kamu nggak enak badan, Ibra?" Aku membalikkan tubuh hingga berhadapan dengannya. Sontak meraba dahi, pipi dan lehernya, juga membandingkan dengan suhu di wajahku sendiri.

"Kalau aku nggak enak badan, kamu mau ambil cuti?"

"Ambil cuti, kan, nggak bisa dadakan. Kamu tuh, ya, masa pemimpin perusahaan nggak tahu."

"Oh iya," Dia terkekeh pelan di depanku yang masih meraba-raba lengan dan lehernya, memastikan kalau dia memang benar-benar sakit. "Aku sakit, kan, ya?"

Sebenarnya, badannya hanya hangat. Tapi aku juga khawatir dia akan sakit jika dibiarkan begitu saja. "Yaudah, aku izin nggak masuk, deh, hari ini."

"Beneran?" Wajahnya berubah semringah.

Aku mengangguk. "Sebentar, aku mau izin dulu." Langsung kuambil ponsel di atas meja makan dan Ibra malah kembali memelukku dari belakang.

Tak lama, aku selesai mengabarkan pada manajerku bahwa hari ini aku tidak bisa masuk kerja dan dia memakluminya. Malah, katanya dia mempertanyakan kenapa aku tak mengambil cuti.

"Aku udah izin. Sekarang kamu sarapan dulu, ya. Habis itu kamu tidur lagi aja." Aku lantas membawa Ibra duduk di kursi makan dan mengambilkan nasi goreng spesial buatanku untuknya.

Dia menurut dan tak henti memperhatikanku yang sudah akan duduk di sisinya. "Kamu duduk di depanku aja," sergahnya sebelum aku menarik kursi. Aku bingung, tapi menurut. Mungkin dia nggak nyaman duduk bersebelahan denganku? Tapi kemudian, dia mengungkapkan alasannya tanpa perlu aku tanya, "Biar aku bisa lihat kamu terus."

Oh, seketika pipiku langsung menghangat dan aku benar-benar dibuat salah tingkah hanya karena ucapannya barusan. "Maksudnya apa, nih, bilang kayak gitu? Jangan bikin baper deh, ya!" Aku berpura-pura melotot untuk menghalau denyut nadiku yang berkejaran.

"Lho, emang aku sengaja mau bikin istriku baper." Dia malah terus menatapku dengan santainya sementara aku tengah berusaha menekan gugup. "Memang benar kata Bibi Maura, kamu itu paket komplit," celetuknya setelah dia menyendokkan nasi ke mulut.

"Dikira menu restoran." Aku hanya menggeleng sambil menyuapkan nasi goreng di mulutku juga.

Lihat selengkapnya