12. LULUH BEGITU MUDAH
Aku tak bodoh untuk tahu maksud Rinai mengatakan hal itu padaku. Dia pasti berpikir bahwa aku ini lelaki yang walau bagaimanapun mencoba menahan diri, juga bisa tergoda jika aku dihadapkan pada wanita yang tengah menggodaku. Dia pasti menjadikan dalih aku yang tidak—atau belum—mencintainya sebagai alasan.
Memang benar bahwa aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa semudah ini lepas kendali melihat Rinai di malam pertama kami. Aku juga tidak bisa tahan ketika dia terus menggodaku dan berakhir seperti yang seharusnya.
Tapi kupikir, hal itu pasti karena ada ikatan yang sah di antara kami yang membuatku menanggalkan batas yang sepatutnya aku jaga jika itu bukan istriku.
Aku merasa kecewa dengan pertanyaannya. Aku marah. Tapi aku juga tak mau kalau kekecewaan dan kemarahanku melukainya.
Maka, kuputuskan untuk meninggalkannya dan pergi ke kamar mandi. Aku perlu mendinginkan kepalaku.
Hingga aku selesai mandi, aku tak mendapati dia di ranjang. Saat aku keluar kamar, terdengar bunyi gemericik dari kamar mandi luar. Sepertinya dia sedang mandi di sana. Maka, aku putuskan untuk bekerja di ruang kerjaku.
Meski tak bisa fokus, tapi aku berusaha untuk membuka laptop dan memantau pekerjaan dari sini. Bahkan hingga beberapa jam berlalu, aku tak keluar dari ruang kerja dan tak tahu Rinai sedang apa saja di sana.
Saat jam menunjukkan pukul 10.00, aku putuskan untuk ke luar ruang kerja. Penat juga rasanya harus berada terus di dalam. Selain itu, aku begitu penasaran dengan apa yang tengah dilakukan Rinai saat aku tak ada di sampingnya.
Begitu membuka pintu, pandanganku langsung menangkap sosoknya yang tengah menonton televisi meski tidak ada suara yang diperdengarkan di sana. Layar televisi hanya menampilkan iklan dan saat aku melewati Rinai untuk melihat apa dia tengah betulan menonton atau tidak, rupanya dia tengah duduk sambil terantuk dengan matanya yang memejam.
Gegas aku menghampirinya untuk mencegah kepalanya jatuh tersungkur ke meja yang ada di depan wanita itu. Telapak tanganku refleks menangkapnya dan aku sigap duduk di sisi Rinai demi membiarkan kepalanya bersandar di bahuku. Cukup lama aku berdiam diri tanpa bereaksi apa-apa.
Aku menoleh sedikit demi melihat dia yang tertidur begitu pulas di bahuku. "Dia memang cantik. Cantik sekali. Ke mana saja aku selama ini?" gumamku.
Hingga waktu sudah lewat dari setengah jam, aku pun menidurkannya di sofa dengan terlebih dulu memberinya bantal di kepala agar tidurnya lebih nyaman.
Kutinggalkan ia yang masih tertidur pulas. Aku bergerak ke pantri dan membuka kulkas. Kubawa beberapa buah yang masih tersisa di sana. Namun, saat aku baru saja menaruh buah-buah itu di meja, tiba-tiba dua buah tangan melingkar di perutku.
"Maaf." Aku bisa mendengar suaranya begitu lirih. "Aku sudah menyinggungmu."