13. ADA YANG BERBEDA
Memasuki bulan keenam setelah pernikahan.
Hari-hari setelah pernikahan berjalan istimewa. Kami menjalani semua layaknya teman yang tengah berbagi kehidupan dalam sebuah apartemen. Sudah hampir lima bulan belakangan, aku mulai terbiasa dengan perlakuan Ibra yang begitu manis. Dia menepati janjinya untuk meratukanku.
Aku tak dibiarkannya mengerjakan pekerjaan rumah. Selain memasak—karena dia amat suka masakanku, aku tak melakukan apa-apa lagi. "Selama ini kamu pasti sudah menjadi anak Ibu dan Bapak yang rajin, kan? Kini, biarkan aku memberimu hadiah untuk itu."
Begitu ucap Ibra yang ketika aku adukan pada Ibu, rupanya wanita yang melahirkanku itu pun menyetujuinya. "Rezeki kamu itu, Nai. Disyukuri, ya."
Tentu, aku menerima hadiah itu dengan senang hati. Aku hanya akan menemaninya jika sedang berada di rumah dan tidak bekerja. Bahkan, Ibra membuktikan juga padaku bagaimana ia menjadi suami yang baik untukku. Hingga perkara aku yang sakit ketika haid pun, dia begitu sigap merawat hingga membelikanku pembalut, minuman pereda nyeri, heating pad, krim penghangat, cokelat, bahkan sampai membuatkanku teh chamomile.
"Dari artikel yang aku baca, wanita haid itu benar-benar tengah diuji kekuatannya. Makanya aku harus jadi suami siaga biar bisa bikin kamu nyaman dan rileks."
Ibra benar-benar belajar banyak untuk menjadi suami yang baik dan perhatian walau ya, ketika aku haid dia akan sering bertanya apa haidku masih berlangsung, kapan berakhirnya, dan sebagainya. "Sabar, ya. Nanti aku akan beri pelayanan ekstra jika haidku sudah berhenti." Akhirnya aku memberi dia kalimat pamungkas itu jika dia sudah tampak tak sabar.
Sama halnya dengan Ibra, aku pun belajar menjadi istri yang berbakti untuk Ibra. Sebisa mungkin aku melayani apa yang dia inginkan dan butuhkan. Aku menyediakan segala yang dia perlukan. Pun, aku akan berusaha menuruti apa yang dia minta.
Bagaimanapun, begitu seharusnya hubungan suami istri itu, kan? Aku melihat sendiri bagaimana Ibu dan Bapak menjalani pernikahannya dengan harmonis selama berpuluh tahun. Aku bahkan sempat berkecil hati berkeinginan memiliki rumah tangga seperti mereka. Pasalnya, selama ini aku tak pernah dekat dengan lelaki mana pun dan tak mau membuka hati untuk siapa pun.
Namun, Allah nyatanya berbaik hati karena memberikan Ibra untukku.
"Nanti aku kabari kalau udah otw dari kantor dan jemput kamu, ya." Ibra mengecup kening dan juga tanganku setelah aku mencium tangan dan juga pipinya sebelum turun dari mobil.
Pagi ini dia agak terburu-buru untuk sampai di tempat kerjanya karena katanya akan ada buku terjemahan yang mesti naik cetak pagi ini dan pria itu akan memastikan semua sudah oke. Meski bukan penerbit yang besar sekali, tapi PT Alexis Media ini menjadi salah satu penerbit mayor yang patut diperhitungkan di tanah air. Dan walau Ibra memiliki puluhan karyawan, dia tetap sering terjun langsung mengecek semua buku yang akan diterbitkan perusahaannya itu.
Menyenangkan sepertinya bekerja bersama dengan pemimpin yang berdedikasi dan royal juga seperti Ibra terhadap karyawannya. Berbeda denganku yang memiliki atasan agak kaku dan kurang perhatian pada karyawan. Padahal, yayasan tempat aku bekerja bergerak di bidang kemanusiaan di mana kami biasa meng-handle donasi untuk siapa saja masyarakat Indonesia yang membutuhkan.
"Kalau gitu, kamu resign aja dari tempat kerjamu dan pindah ke kantorku. Kamu jadi sekretarisku dan aku akan pindahkan Temi jadi kepala divisi." Ibra pernah melontarkan usul seperti itu saat kami tengah mengobrol soal pekerjaan. Temi adalah sekretaris barunya setelah Reysa resign.