14. HANYA MILIKKU
"Ibra, aku udah beres haid, lho. Kok, kamu nggak nyadar, sih? Padahal tadi kita shalat Maghrib dan Isya berjamaah."
Karena terlalu memikirkan pria yang tadi bertemu dengan istriku, aku jadi tidak menyadari bahwa hari yang biasanya sangat kunantikan sudah tiba. Iya, setiap kali Rinai mendapatkan masa bulanannya, aku merasa merana. Meski Rinai bersedia melayaniku dengan cara yang lain, tetapi aku tetap ingin dia seutuhnya.
Aku lantas menggamit tangannya dan menciuminya lama. Kami sedang menonton film yang dipilih wanita itu—meski aku tak bisa fokus menyaksikan alur ceritanya karena masih kepikiran soal tadi. Aku merebahkan diri di pangkuannya yang tengah duduk di sofa panjang di ruang tengah dan bisa melihat wajahnha dari posisiku sekarang. Tangannya masih ada dalam genggamanku.
"Kenapa Rifky nggak datang waktu kita nikah? Dan, kenapa kamu nggak pernah cerita soal dia sebelumnya sama aku?" Aku berusaha untuk bersikap dan bertanya dengan nada yang biasa walau seribu tanya tentang rasa penasaranku akan sosok Rifky dan hubungannya dengan Rinai begitu mengganggu pikiranku.
Kini, pandangannya tak lagi fokus ke layar televisi karena sepertinya film yang dia pilih kurang menarik, atau entah. Dia memainkan rambutku, lalu turun ke wajahku. "Dia kerjanya jauh di Kalimantan, di bagian lapangan. Cuma katanya sekarang udah dimutasi ke sini, jadi di bagian kantornya. Aku nggak cerita karena ya itu nggak penting juga, kan, buat kamu?"
"Mungkin dia patah hati pas denger kamu nikah dan nggak bisa liat kamu bersanding dengan lelaki lain di pelaminan selain dia. Makanya dia nggak datang." Aku mengutarakan spekulasiku.
Rinai malah terkikik sambil menjawil hidungku. "Mungkin iya. Tapi ya emang dia lagi sibuk aja."
"Sekarang dia masih belum nikah?" tanyaku ingin tahu lebih lanjut.
"Belum." Rinai kini malah membelai rahangku. Tindakannya makin lama makin membuat darahku berdesir-desir.
Namun, aku masih penasaran dengan pria itu. "Kalian memang sedekat itu, ya, dulu?"
"Ih, aku kan udah bilang tadi kalau kami dekat ya karena sepupuan. Dia kakak sepupu aku tepatnya." Rinai terlihat gemas karena kini dia mencubit pipiku.
"Berarti kalian biasa kontak fisik gitu?"
"Ya ampun, Ibra. Kontak fisik kayak gimana, sih, maksudnya?"
"Dia genggam tangan kamu, lama. Ngelus-ngelus kepala dan rambut kamu juga. Aku liat dari mobil saat masih nunggu lampu merah tadi."
"Itu hal wajar, deh, kayaknya. Lagian kenapa, sih, malah ngobrolin dia. Entar deh aku kenalin kalian kalo pas ketemu," cetusnya.