Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #16

15. Mungkinkah Kamu Cemburu

15. MUNGKINKAH KAMU CEMBURU?

 

Meski ini bukan kali pertama Ibra marah padaku dan bersikap tak acuh serta mendiamkanku untuk beberapa waktu, tapi rasanya kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda. Dia begitu dingin. Tampaknya dia begitu murka padaku. Padahal, ya, kali ini aku tak melakukan kesalahan yang tidak dia sukai—mengungkit perkara Reysa.

Hingga malam datang, Ibra masih tampak begitu marah dan tidak memedulikanku. Bahkan, dia tak mengajakku shalat Maghrib dan Isya berjamaah dan membiarkanku shalat seorang diri.

"Ibra, kamu mau aku masakkan apa untuk makan malam?" Aku sempat bertanya tadi, dengan takut-takut.

Namun, dia hanya menjawab dengan dingin sambil berlalu ke ruang kerja. "Aku nggak lapar."

Sungguh aku tak mengerti dengan masalah yang membuat dia semarah ini. Apakah karena aku yang menumpang mobil Rifky saat pulang tadi—dan karena ponselku mati, aku jadi tidak bisa mengabarinya dan tidak bisa mendapatkan kabar darinya. Ataukah karena aku yang memakai pakaian seperti tadi—kemeja sifon yang ketika kebasahan akan tampak menerawang, ya meski aku juga memakai tanktop tadi.

Untungnya, beberapa bulan menikah dengan Ibra, membuatku setidaknya tahu apa yang menjadi titik kelemahan pria itu. Setidaknya aku punya satu hal yang bisa kuusahakan untuk membuat dia mau melihatku.

Meski Ibra tak pernah melarangku untuk masuk ke ruang kerjanya, tapi selama ini aku tak pernah menyangaja ke sana. Aku hanya pernah beberapa kali masuk saat Ibra minta dibuatkan kopi atau camilan saat ia tengah berkutat dengan pekerjaan.

Ini mungkin tindakan nekat, tapi aku yang memang sudah membiarkan diriku jatuh dalam pernikahan ini, bertekad untuk melakukan yang terbaik sebisaku.

Tanpa kuketuk terlebih dulu pintunya, aku langsung masuk begitu tahu ruangan itu tak dikunci. Ruangan tidak terlalu luas yang diisi hanya dengan meja kerja, lemari buku dan satu sofabed bersama satu nakas kecil di sampingnya itu selalu mampu menyedot perhatianku. Pasalnya, aku seperti berada di dunia dongeng saat masuk ke ruangan yang lampunya selalu dibiarkan temaram ini.

Aku langsung bisa menangkap sosok Ibra yang kini tengah berdiri di depan sebuah lemari buku besar yang berisikan banyak buku di sana. Entah dia menyadari kedatanganku atau tidak. Tapi, aku langsung menghampirinya dan melingkarkan tanganku di perutnya.

"Maaf." Suaraku rasanya terdengar begitu parau karena aku tengah menahan gugup sekarang. "Aku nggak suka kamu mendiamkanku begini. Kamu boleh memarahiku, Ibra, tapi jangan seperti ini."

Ibra yang tengah mengenakan kaus hitam dan celana pendek abu itu memegang tanganku dan dia berbalik. Aku cukup kaget saat melihat matanya sudah melahirkan hujan. Sesuatu yang baru pertama kali ini aku lihat darinya.

Apa dia menangis? Tapi karena apa?

"Sebenarnya, apa yang membuat kamu semarah ini padaku?" Refleks aku mengusap kedua pipinya yang basah.

Dia menatap kedua mataku bergantian. "Aku nggak suka liat kamu sama pria itu. Aku nggak suka dengar apa pun tentang kalian di masa lalu. Aku nggak suka kamu dekat sama dia. Apalagi berakhir seperti tadi."

Lihat selengkapnya