Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #17

16. Damai Bersamamu

16. DAMAI BERSAMAMU

 

"Ternyata benar, kan, kataku. Kamu akan lebih cantik jika berhijab," celetukku saat menemani Rinai yang tengah mencoba beberapa pakaian serta jilbab yang dibelinya bersamaku tadi.

Dia tersenyum begitu manis dengan tatapan malu-malu saat aku puji begitu.

Hampir semua pakaian dan jilbab yang dibeli adalah pilihanku. "Aku mau memuaskan pandangan suamiku. Aku ingin selalu menyenangkan suamiku. Aku mau pake apa yang suamiku suka," katanya. Tentu, aku sangat senang mendengarnya.

Beberapa dress panjang, abaya, tunik serta rok dengan warna-warna pastel yang cantik sekali menempel di badannya kini memenuhi lemari wanita itu. Meski masih ada pakaian panjangnya terdahulu yang bisa dipakai, tapi lebih banyak pakaian yang katanya harus dikeluarkan.

"Aku tuh suka pake konsep decluttering. Jadi kalau beli baju satu, aku keluarin minimal satu juga dari lemari. Nah, ini kan kebetulan banyak yang nggak bisa dipake juga nantinya, jadi aku akan titip ke Ibu karena di tempat tinggalku dulu biasanya ada orang yang perlu baju bekas gitu." Rinai menjelaskan saat ia memilih-milih pakaian sebelum kami berangkat belanja tadi.

Aku hanya menyetujuinya. "Lakukan apa yang menurut kamu memang harus dilakukan, Sayang. Nanti pas belanja, kamu jangan segan-segan mau ambil ini itu. Aku yang bayarin semua."

Tangan wanita itu mengusap pelan pipiku. "Duh, baiknya suami aku."

Dan aku, bisa juga tersipu hanya karena perlakuan sederhananya.

"Kamu nggak keberatan kalo kita ke rumah Ibu hari ini? Kamu capek nggak?"

Aku mengangguk untuk mengiyakan ajakan istriku itu. "Bapak pasti akan senang sekali liat anaknya berhijab sekarang."

Rinai tiba-tiba saja memelukku. Jarang sekali ia melakukan hal seperti ini. Maksudnya, dia jarang memelukku dari depan begini. "Makasih, ya."

Aku lantas balas memeluknya dan seketika aku merasa hadirnya Rinai di sisiku adalah hal paling benar yang pernah kudapatkan di dunia ini. "Aku sudah bilang, kan, nggak perlu berterima kasih. Aku beliin semua itu buat kamu karena itu kewajiban aku, hak kamu juga."

Dia menggeleng, masih di pelukanku. "Makasih karena kamu sudah berusaha membuatku merasa diterima di hidupmu sejauh ini. Itu yang aku rasakan. Walau aku belum dan tak akan pernah bisa dapetin hati kamu, tapi aku bahagia bisa menjalani hari-hariku sebagai istri kamu."

Tiba-tiba saja aku merasa hatiku dicubit mendengar penuturan Rinai kali ini. Entah kenapa aku merasa ada yang harus diluruskan di sini. "Sayang, kamu tahu—"

Sebelum sempat aku berbicara, dia keburu menutup mulutku dengan jemarinya. "Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa. Aku sudah merasa cukup dengan ini semua." Dia mendongak dan melemparkan senyum sebelum kembali memelukku. "Kalau suatu saat kita nggak bisa sama-sama lagi entah karena apa, aku harap kamu nggak nyesel pernah menghabiskan hari-hari kamu sama aku."

Aku malah dibuat gusar dengan kalimatnya barusan. "Kamu ada niat ninggalin aku, Sayang? Kok, ngomong gitu?" Aku merasa tak terima mendengar kata-kata bernada perpisahan seperti itu darinya.

Lihat selengkapnya