17. PESAN USAI KEBERSAMAAN
Bagaimana bisa selama ini aku luput dengan apa yang seharusnya menjadi kebenaran persoalan hatiku? Bagaimana mungkin aku tak tahu bahwa yang seharusnya aku cintai selama ini adalah Rinai, bukan Reysa? Bagaimana aku harus memberitahu Rinai tentang kenyataan ini?
Aku masih ingat kalau siang itu, aku melihat seorang gadis berambut dikuncir satu dengan ikat rambut berwarna biru muda tengah duduk dengan napas yang terengah di pelataran gedung rektorat. Aku tak terlalu memperhatikan wajahnya karena posisi duduknya menyerong dan dia tengah sibuk mengelap keringatnya dengan satu tangan dan tangan lain mengipasi wajahnya.
Entah mendapatkan dorongan dari mana, tiba-tiba aku sudah ada di hadapannya dan memberi dia saputangan serta tumbler milikku. Sepanjang aku berbicara, dia hanya menunduk sambil berterima kasih dengan suaranya yang tidak terlalu jelas. Sepertinya dia tipe gadis yang pemalu. Dalam hati aku berjanji bahwa jika ada kesempatan, aku akan mengajaknya berkenalan.
Di lain hari saat ospek usai dan para mahasiswa baru mulai perkuliahan di kelas masing-masing, seorang gadis tiba-tiba duduk di sampingku. "Hai, boleh duduk di sini?" tanyanya dengan wajah yang ceria. "Kosong, kan?"
"Ya, silakan," sahutku cepat. Pasalnya, aku merasa mengingat seseorang karena melihat ikat rambut biru muda yang dipakainya. Namun, dia ternyata tak sepemalu itu, ya? Begitu pikirku.
Dia berterima kasih dan saat mengeluarkan isi tasnya, ada saputangan abu-abu yang amat aku kenali jatuh dari sana. Aku membantunya membawa saputangan itu dan melihat inisial IA di salah satu sudutnya. Hari itu, aku mendapat keyakinan bahwa dia adalah gadis yang aku cari. Maka, "Aku Ibra. Ibrahim Alexander," ucapku sambil mengulurkan tangan.
Gadis itu tersenyum lagi dan menyambut uluran tanganku. "Oh ya, aku Reysa. Reysa Christiani. Senang berkenalan denganmu, Ibra. Semoga kita bisa berteman dan berkerja sama di kelas ini."
Sejak saat itu, Reysa menjadi salah satu alasan aku bersemangat pergi ke kampus. Dan karena itu, aku tak melewatkan kesempatan menjadi sahabatnya. Bahkan hingga aku mendirikan perusahaan penerbitan sendiri beberapa tahun silam, dia aku jadikan sekretaris di sana agar dia selalu ada di sekitarku.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" Rinai yang baru saja menyisir rambutnya di depan cermin di kamar unit apartemen kami bertanya dengan raut cemas. "Kamu aneh sejak tadi. Kamu sakit? Kenapa liatin aku dengan wajah sendu gitu, sih?"
Aku masih memandanginya dari pantulan cermin sambil berdiri bersedekap di dekat lemari tempatku berganti pakaian barusan. Beberapa menit lalu kami pulang dari rumah orang tua Rinai karena kami tidak berniat menginap seperti biasanya.
Saat dia berdiri dan berbalik menghadapku, aku langsung berjalan ke arahnya dan memeluknya begitu erat. Perasaanku benar-benar tengah bercampur aduk rasanya mengingat fakta yang baru diketahui tadi.
Ada sesak yang menghimpit dadaku hingga membuatku seolah sulit bernapas. Aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu bodoh karena dulu tak memastikan gadis itu dengan benar. Aku ingin kembali memutar waktu, tapi aku tahu itu hal yang mustahil.
Rinai, bagaimana bisa aku melewatkanmu selama ini?
Rinai, bagaimana bisa aku keliru mengenalimu?
Rinai, bagaimana caranya aku mengatakan semua ini padamu?