18. KEMBALINYA PEMILIK HATI
Aku mengusap dada saat membaca pesan di pop up notifikasi itu. Reysa? Perempuan itu datang kembali? Jumat kemarin? Mereka bertemu Jumat kemarin? Dan Ibra menyembunyikan semua ini dariku? Kenapa? Apa itu yang membuat Ibra tampak emosi kemarin? Apa itu yang membuat Ibra begitu berhasrat padaku semalam? Karena dia ingin melampiaskan emosinya pada Reysa dengan menyentuhku?
Aku tertawa getir membayangkan semua yang terjadi. Aku menahan sesak di tenggorokan mengingat apa yang baru saja kualami. Aku memang begitu naïf, kan? Aku memang begitu bodoh karena mengira Ibra sudah mulai bisa menerima kehadiranku sebagai istrinya.
Gegas aku beranjak ke kamar mandi setelah meletakkan kembali ponsel Ibra di atas nakas. Gerimis di hatiku nyatanya menerobos ke luar melalui kelopak mata, membasahi pipi. Aku menyalakan shower dan terduduk di lantai dingin kamar mandi sambil menahan isak. Kuanggap guyuran air dari shower ini laksana hujan yang bisa menyamarkan tangisku.
Seharusnya aku sudah mempersiapkan diri untuk semua ini. Namun, nyatanya aku benar-benar merasa hatiku tersayat mengetahui kedatangan Reysa di kota ini, dan mungkin di hidup dan di hati Ibra kembali tak lama lagi. Aku ingin berteriak, tetapi hanya sedu tertahan yang mampu keluar dari bibirku.
Aku memperhatikan beberapa bagian tubuhku yang dipenuhi tanda cinta yang Ibra ciptakan.Ah, bukan. Tak pantas rasanya aku menyebut semua ini sebagai tanda cinta bila yang dia lakukan padaku tak lebih dari sekadar memuaskan dirinya.
Sebenarnya, aku tak masalah sudah menyerahkan diri pada Ibra sedari awal kami menikah. Jikapun dia yang meminta lebih dulu, aku akan memberikan semuanya dengan sukarela. Namun, bahkan perlakuan lelaki itu yang memberiku keyakinan bahwa dia melakukannya karena dia memang ingin dan menyukainya.
Rupanya, semua keyakinanku musnah dalam beberapa detik saja. Aku tak bisa lagi berpikir apa-apa saat ini. Bahkan, aku rasanya tak sanggup bila harus memperlihatkan wajahku di hadapan pria yang telah menikahiku itu. Terlalu percaya diri rasanya jika aku mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya.
Maka, kali ini aku putuskan untuk menjauh sejenak. Aku pergi dari apartemen Ibra saat lelaki itu masih terlelap. Aku bahkan telah menyiapkan nasi goreng spesial kesukaannya yang bisa ia hangatkan jika bangun nanti. Bagaimanapun, aku tetap harus menjalankan baktiku padanya.
Tak ada tempat yang bisa aku tuju selain hanya rumah Ibu dan Bapak. Aku tiba di rumah sederhana itu saat hari beranjak siang. Ibu dan Bapak menyambutku dengan hangat seperti kemarin meski tampak kerutan di wajah mereka karena aku datang seorang diri.
“Ibra sedang ada pekerjaan, Bu, Pak. Mungkin besok dia menjemput Nai,” bohongku. Meski aku tutupi, nyatanya semua perasaan yang berkecamuk di hatiku bisa mereka baca dengan mudah.
“Kamu kalau ada masalah sama suami, ya, jangan main pergi-pergi tanpa bilang suami,” tegas Bapak saat kami tengah duduk di sofa ruang tamu.
Aku hanya menggigit bibir mendengar ucapan Bapak yang memang tak pernah basa-basi. “Aku nggak pergi diam-diam, Pak. Aku sudah mengabari suamiku,” jelasku membela diri. Aku memang sudah mengiriminya pesan kalau akan menginap di sini hari ini.
Ibu tak menyela pembicaraan aku dan Bapak. Beliau hanya mengusap-usap pelan tanganku selama kami berbicara. Saat aku hendak menuju kamarku, tiba-tiba terdengar deruman mobil di depan. Aku tak terlalu memedulikan dan masuk ke kamar karena kupikir itu hanya suara mobil di rumah tetangga.
Namun, tak lama aku mendengar suara tegas seorang pria mengucapkan salam di luar sana.
“Waalaikumsalam. Eh, Ibra. Ayo masuk, Nak, sini. Katanya kamu jemput Nai besok? Kok, malah sekarang?”
“Ah, saya bukan mau jemput Rinai, Bu. Saya memang akan ikut menginap juga di sini.”
Dan, seketika semua pertahananku jebol mendengar ucapannya itu. Hujan kembali turun dari mataku. Bagaimana aku bisa menjauh darinya untuk sementara waktu?