Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #20

19. Hati yang Hampir Patah

19. HATI YANG HAMPIR PATAH

 

Aku sengaja berbohong. Bukan aku tak mau mempertanyakan soal kedatangan kembali Reysa di sini dan pertemuan mereka kemarin lalu, tapi aku ingin Ibra sendiri yang cerita tanpa aku minta. Maka, demi menutupi kerisauanku, aku mengarang perihal mimpi diselingkuhi dan ditinggalkan Ibra karena Reysa datang lagi.

Kupikir, dia akan terpancing dan berakhir jujur. Namun ternyata, tidak.

Aku harus menelan getir yang lebih dari sebelumnya karena nyatanya, aku tak seberarti itu di hidup Ibra. Meski kami telah melewati lebih dari seratus malam berdua, tapi memang tidak ada yang tertinggal dalam diri Ibra dari kebersamaan itu selain hanya penuntasan hasrat saja.

Katakan aku bodoh karena masih terus bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini. Namun, wanita mana pun sepertinya memimpikan bisa hidup bersama dengan pria yang dicintainya. Lagi pula, Ibra tak pernah memperlakukanku dengan buruk selama ini. Dia lebih dari sekadar baik pada istri yang tidak dicintainya ini.

Kelak, jika aku mendapatkan bukti bahwa benar Ibra memilih kembali pada Reysa, maka aku pasti akan mengalah. Bohong jika aku bahagia melihat dia bahagia. Aku tentu pasti terluka jika itu terjadi. Tapi membiarkan Ibra tetap di sisiku sementara ada seseorang yang dinanti dan dicintainya tengah menunggu, aku bisa apa selain melepasnya.

Maka, aku biarkan hari-hariku ke depan diliputi kepura-puraan seolah aku tak pernah tahu kehadiran Reysa kembali di kota ini.

"Sayang, kalau kamu punya anak, gimana rencana kamu? Apa kamu masih mau kerja?"

Aku tersedak saat kami tengah sarapan pagi tadi. Kami memesan nasi udukdi dekat kawasan apartemen Ibra karena dia tak ingin aku repot memasak pagi ini. Sesekali beli agar melariskan usaha orang lain juga katanya.

"Kamu kenapa? Kayak kaget gitu?" tanyanya sambil berdiri, menepuk-nepuk pundakku pelan dan menyodorkan segelas air putih.

Aku menggeleng. Dia kembali duduk. "Aku pikir kita nggak berencana punya anak," ungkapku jujur.

Mata pria itu memicing. "Memangnya kamu nggak mau punya anak dariku? Atau kamu berniat childfree?"

Tentu aku mau. Namun, justru aku malah balik bertanya. "Harusnya aku yang tanya begitu, memangnya kamu mau punya anak dariku?"

Pria itu mengangguk antusias. "Ya jelas donk. Kan, kita juga udah usaha terus." Dia terkekeh sendiri. "Salah satu tujuan nikah, kan, biar dapat keturunan, Sayang. Tapi tergantung kamu juga maunya berapa. Yang hamil, kan, kamu. Aku cuma bantu support pastinya. Jangan sampe aku maksa kamu. Makanya aku juga tanya rencana kamu kalo kita punya anak gimana." Ibra tampak antusias sekali membicarakan topik ini.

Aku jadi semakin bingung dibuatnya. "Sedapatnya aja, ya, Sayang." Aku meminta persetujuan darinya dan pria itu mengangguk mantap. "Kamu mau aku resign dan jadi ibu rumah tangga?"

"Aku, sih, terserah kamu. Kalaupun kamu resign, aku akan bilang sama orang tua kamu. Walau gimanapun, mereka udah berhasil nguliahin kamu jadi sarjana. Kalau soal finansial, aku akan berusaha sepenuhnya bertanggung jawab sama kamu, orang tua kamu, apalagi anak-anak kita nanti. Kamu percaya sama aku, kan?"

Oh, dia sudah berpikir sampai sejauh itu?

Meski bisa bersama dengan Ibra adalah salah satu hal yang menjadi mimpiku selama ini, tapi untuk memiliki anak-anak darinya tentu rasanya itu terlalu muluk-muluk untukku.

"Kamu, kok, malah melamun?" Ibra mengusap pelan punggung tanganku. "Kamu jangan jadi kepikiran ya soal kehamilan ini. Aku nggak buru-buruin kamu. Kan, kita bikinnya berdua juga. Selagi menunggu dan berusaha, kita pacaran dulu." Dia menunjukkan binar di matanya.

Lihat selengkapnya