Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #21

20. Janji yang Pernah Terlintas

20. JANJI YANG PERNAH TERLINTAS

 

Dulu, aku tak pernah dengan sengaja membayangkan akan menjalani kehidupan rumah tangga dan menghabiskan sisa usiaku bersama seorang wanita. Aku hanya pernah punya keinginan untuk bisa dekat dengan gadis yang saat itu aku bantu di masa OSPEK.

Aku melihat dia sendiri, tak punya teman. Lantas, dalam hati aku berjanji bahwa aku akan menjadi temannya dan berusaha ada setiap dia membutuhkannya. Entah rasanya memang terkesan konyol dan tidak logis karena bisa-bisanya aku berjanji untuk orang yang bahkan belum aku kenal. Tapi, aku hanya tidak suka melihatnya sendiri.

Aku menepati janji itu, tapi pada orang yang salah.

Tentu setelah bersama Reysa aku malah jadi ingin terus bersama dia, tapi bukan untuk menikahinya.

Aku tidak paham apakah kebersamaanku dengan Reysa adalah bagian dari takdir atau bukan. Tapi yang jelas, semua sudah berlalu dan meski seberapa besarnya sesalku, tetap itu takkan berguna.

Yang seharusnya kulakukan sekarang adalah menjalin hubungan dengan Rinai dari awal. Aku ingin dia selalu melihatku sebagai pria yang tepat. Dan aku juga tengah menunjukkan padanya bagaimana aku merasa beruntung memilikinya.

"Sayang, hp kamu bunyi, nih. Kayaknya ada telepon, deh." Aku yang sedang menunggu Rinai di meja makan karena dia kembali ke kamar untuk membawa bros menatap ponsel istriku yang menampilkan nama Rifky. Bisa-bisanya dia nelepon sepagi ini.

"Dari siapa?" Rinai menyahut sambil berjalan setelah merapikan bros yang terpasang di sisi kiri jilbabnya. Pagi ini penampilannya terlihat begitu memukau dengan abaya biru emerald yang dipadukan jilbab pink pupus—Rinai menyebutnya warna misty rose.

"Cowok itu." Malas sekali aku menyebut namanya. "Ada apa, sih, dia telepon pagi-pagi begini?"

Rinai yang sudah duduk di hadapanku—yang memang selalu aku minta begitu agar bisa melihat wajahnya yang begitu menawan—membawa ponselnya dan melihat sejenak sebelum berujar, "Boleh diangkat nggak ini?" Dia meminta persetujuanku.

Dengan gerakan malas aku pun mengangguk. Dia tertawa melihat aku jadi murung. Dia tahu aku tengah menahan cemburu.

Lalu, terdengar salam dari seberang sana karena Rinai tampaknya menekan tombol loudspeaker agar aku bisa mendengar percakapan mereka. Wanita itu menjawab salamnya. "Ada apa, Ky, pagi-pagi begini telepon? Semua baik-baik aja, kan? Ibu Bapak aman?" Rinai tampak serius saat menanyakan hal itu.

"Oh nggak ada apa-apa. Semua baik, aman. Orang tuamu sehat juga." Benar, kan, semalam kami sempat teleponan dengan orang tua Rinai. Lantas, untuk alasan apa dia menelepon?

Namun, rupanya kecurigaanku tak beralasan.

Pria itu kembali berbicara. "Inii, Bibi, maksudku ibumu minta tolong aku buat antar soto mie. Ibu sengaja bikin subuh banget tadi. Katanya suamimu suka banget soto mie buatan Bibi. Kalian juga udah nggak ke rumah dua pekan ini katanya. Kebetulan aku nanti mau ada meeting nggak jauh dari lokasi apartemen suamimu. Jadi sekalian ini."

Lihat selengkapnya