21. KEINTIMAN YANG (TAK) SEHARUSNYA
"Aku nggak tahu kenapa mimpi itu bisa sangat memengaruhimu, tapi Sayang, aku harap kamu percaya dan lihat kesungguhanku." Sekitar satu pekan lalu, saat kami tengah berbaring berdua menyaksikan jutaan air turun dari langit mengguyur seisi kota sore itu dari ranjang di kamar dan membiarkan tirainya terbuka, Ibra mengatakan kalimat itu dengan hati-hati.
Sudah satu bulan belakangan memang aku membatasi diri. Entah kenapa rasanya aku tak bisa sebebas sebelumnya setelah tahu Reysa datang lagi dan Ibra menyembunyikan hal itu dariku. Aku tidak tahu untuk alasan apa Ibra tidak mau cerita. Hanya saja, semakin hari rasanya terasa sulit bagiku untuk menanamkan kembali rasa percaya diri seperti sebelumnya.
"Kenapa kamu pikir mimpi itu bisa memengaruhiku?" Aku yang tengah berada dalam dekapannya tak bisa melihat ekspresi dia saat berbicara karena tubuh kami berdua menyamping menghadap jendela.
"Karena sejak kamu cerita soal mimpi itu, aku merasa sebagian diri Rinai yang berbeda pergi begitu saja. Kamu nggak lagi manja sama aku. Udah nggak pernah nakal dan goda aku duluan. Nggak pernah lagi flirting dan ngajak duluan. Kamu tetap jadi Rinai yang baik, jadi istri yang patuh, tapi sisi Rinai yang agresif jadi hilang."
Aku bisa mendengar nada kekhawatiran dari suaranya. Selain itu, sepertinya dia tengah menekan kekecewaan dari apa yang disampaikannya. "Tapi kamu jangan kira kalau pikiranku ke arah sana terus, hanya saja sebagai lelaki, aku merindukan sosok Rinai yang itu," imbuhnya.
Dia mengusap-usap lenganku dari balik homedress salur yang kupakai dan membenahi selimut yang menutupi tubuh kami. Bahkan Ibra sudah mematikan AC karena aku merasa kedinginan dan tidak enak badan.
"Aku minta maaf. Ternyata kamu sepeka itu." Tak disangka memang kalau Ibra bisa merasakan perubahan pada diriku Padahal, kami baru menikah beberapa bulan saja, tapi dia seolah telah mengenalku begitu lama. "Kita, kan, baru sebentar nikah, kamu udah bisa lihat kalau ada yang beda dari aku." Aku mengatakan hal yang sejujurnya.
"Aku memang merasa sudah mengenal kamu begitu lama. Sampai-sampai kenangan-kenangan buruk yang pernah aku alami sejak kecil, sudah tidak lagi aku ingat karena saking hadirmu begitu memenuhiku sekarang." Terdengar serius sekali ucapannya.
Aku hanya terkekeh pelan. Meski detak jantungku begitu keras berdebar karena mendengar perkataannya barusan, tapi sebisa mungkin aku tidak terlalu hanyut. "Begini memang rasanya menikah dengan pria yang cinta dunia literasi. Kata-katamu membuatku merasa seperti sedang membaca novel romance."
"Ya, mungkin itu salah satu kelebihanku." Dia mengeratkan pelukan.
"Kamu masih selalu percaya diri." Aku mencibir.
"Tapi, kan, salah satunya itu yang bikin aku menang dari sepupumu itu." Ibra malah semakin jumawa.
Aku membalikkan badan agar berhadapan dengannya. Ingin melihat ekspresi menyebalkannya itu. Sekalian saja aku goda dia. "Ish, kenapa bawa-bawa dia, sih? Lagian kan dia juga udah cerita. Kalau kamu ngerasa dongkol terus sama dia, itu artinya kamu nggak percaya diri."
"Tidak ada kamusnya dalam hidupku kata-kata itu. Aku cuma menyesalkan seandainya aku kenal kamu lebih awal, bisa sama-sama kamu sedari dulu—"
Demi meredakan pengandaian-pengandaian yang sebenarnya sudah pernah dia utarakan, gegas aku membungkam bibirnya agar diam. "Aku akan jadi Rinai yang kamu rindukan itu. Aku akan berusaha melupakan mimpi itu. Asal kamu janji satu hal," pintaku sambil menangkup kedua rahang kokohnya.
"Apa?" Matanya menatapku bergantian.
"Jika suatu saat mimpiku jadi kenyataan, tidak ada alasan lagi aku tetap tinggal. Maka, lepaskan aku saat itu dan biarkan aku pergi."
"Aku hanya akan berjanji kalau itu nggak akan pernah terjadi." Setelah mengatakannya dengan yakin, dia kembali memangkas jarak. Lalu, "Kamu masih nggak enak badan, Sayang?"