22. MENGEJAR KEMBALI HATI YANG PERGI
Hari ini, saat perjuangan baru saja dimulai.
Jika kamu mencari Rinai, dia ada bersama kami sekarang.
Tapi, kamu tidak boleh menemuinya dulu setidaknya untuk beberapa bulan ke depan.
Beri dia waktu.
Dia sudah mengirimmu surat pernyataan untuk gugatan cerai, kan?
Berpikirlah sebelum bertindak.
Pesan itu dikirim Bibi Maura tiga bulan lalu, tepatnya sehari setelah kepergian RInai dari hidupku—bukan, hanya dari apartemenku. Aku benar-benar merasa amat terpukul saat kembali ke rumah siang itu dan mendapati sebuah kertas tergeletak begitu saja di dekat water dispenser. Kertas berisi surat yang isinya sungguh tidak masuk akal bagiku.
Aku yang kalut saat itu langsung bertolak ke rumah Ibu dan Bapak. Nyatanya, Rinai tak ada di sana—atau entah Ibu dan Bapak yang menyembunyikannya kala itu atas permintaan Rinai. Aku sungguh-sungguh meminta maaf dan memohon pada mereka atas kesalahpahaman itu.
"Rinai memang punya watak cukup keras. Ketika hatinya sudah meyakini satu hal, maka dia akan terus membenarkan hal itu dan susah sekali keyakinannya itu diubah." Bapak kala itu memberiku penjelasan mengenaik putrinya, yang aku pikir juga begitu. "Jika memang Nak Ibra tidak seperti yang Rinai tuduhkan, Allah pasti nanti akan menunjukkan kebenarannya."
Ibu pun ikut menimpali. "Betul, Nak Ibra. Untuk saat ini, Rinai masih perlu waktu sepertinya. Nak Ibra yang sabar, ya. Ibu harap nggak terjadi hal-hal yang nggak diinginkan dari pernikahan kalian."
Lubang menganga dalam hatiku yang tanpa sadar berhasil disembuhkan oleh kehadiran Rinai, justru kembali terbuka dan membuatku terluka lebih parah. Aku merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kehilangan. Jiwaku benar-benar hancur karena wanita yang telah jadi milikku itu memilih pergi tanpa ingin tahu penjelasanku.
Aku bisa melihat kepedihan di mata Rinai saat dia melampiaskan semuanya. Aku mengerti dia cemburu melihat Reysa bersamaku dan sialnya, dia memilih menyerah sebelum tahu kenyataannya. Aku tak ingin dia pergi, tetapi nyatanya wanita itu menghilang saat aku tengah mengumpulkan segenap keberanian untuk memintanya tetap tinggal.
Rinai ....
Kenapa merindukanmu rasanya segila ini? Bahkan, dulu saat Reysa pergi, aku tak pernah merasakan kerinduan semacam ini. Aku hanya ingin Reysa kembali, aku marah padanya, aku hanya merasa ada yang hilang karena banyak tahun yang sudah kami lewati berdua sebagai sahabat dan partner kerja.
Namun, entah kenapa kali ini sungguh berbeda rasanya. Orang-orang yang melihatku bahkan mungkin menyangka aku hanyalah seonggok mayat hidup karena tak lagi memiliki gaira untuk menjalani semuanya selepas kepergian Rinai.
Aku ingin dia kembali, tetapi Bibi Maura tak pernah mengizinkanku untuk menjemputnya. Aku telah menghabiskan waktu selama tiga bulan yang terasa bagaikan tiga abad.