23. PERTANYAAN DAN KERAGUAN
Kenapa Ibra datang di saat aku belum sepenuhnya bisa melupakan semua tentang dia?
Kenapa Ibra datang di saat aku masih begitu ingat pada luka yang dia torehkan?
Kenapa Ibra datang di saat aku sedang tertatih menyembuhkan hati?
Di antara begitu banyak pertanyaan yang berkeliaran dalam benakku, hanya tiga itu saja yang sangat memengaruhiku. Sampai membuat dadaku sesak rasanya. Terlebih, saat ini Ibra tengah memelukku dengan eratnya.
"Kebahagiaanku hanya kamu." Kata-kata itu baru saja Ibra ucapkan dengan lirih, tapi terasa tegas di telingaku.
Namun, tentu aku takkan semudah itu luluh hanya karena kehadirannya saat ini dan juga kata-kata manisnya itu. Bagaimana bisa aku percaya apa yang dia bilang sementara selama berminggu-minggu dia bahkan menyembunyikan fakta kedatangan wanita itu dan bahkan mungkin juga hubungan mereka.
Aku masih ingat saat siang itu, aku memutuskan pergi dengan tergesa setelah mengemasi beberapa potong pakaian ke dalam koper dan lantas membawanya beserta tas kecil yang hanya berisi dompet, juga ponsel dan charger. Aku tak begitu bisa berpikir dengan jernih untuk membawa banyak barang kala itu karena khawatir Ibra keburu pulang dari masjid—belakangan dia memang suka berjamaah lima waktu di masjid.
Aku tahu kalau rumah Ibu dan Bapak pasti akan menjadi tujuan utama Ibra jika mencariku. Maka, aku putuskan untuk pergi ke masjid yang letaknya lumayan jauh dengan apartemen Ibra karena aku belum shalat Dzuhur. Aku shalat di sana sambil mencari-cari info keberangkatanku via kereta atau bus ke tempat yang aku tuju.
Ya, Pangandaran.
Waktu itu Bibi Maura pernah bilang bahwa jika aku terluka oleh Ibra, maka aku boleh hubungi wanita itu dan bahkan mengunjunginya di Pangandaran sana. Meski jaraknya bukan main jauh, tapi aku tidak terpikirkan lagi tempat lain.
"Datanglah kemari. Bibi nggak akan biarkan Ibra mengejarmu sampai sini untuk sekarang. Kabari Bibi jika kamu sudah sampai di Kalipucang. Bilang pada sopir atau kernetnya, ya."
Begitu respons Bibi ketika aku mengatakan padanya bahwa aku akan ke Pangandaran naik bus seorang diri. Aku tidak langsung menceritakan apa yang terjadi, tapi sepertinya Bibi Maura tahu bahwa hubunganku dengan Ibra sedang tidak baik-baik saja mengingat aku memintanya untuk tidak mengatakan padanya ke mana aku akan pergi setelah ini.
"Lepaskan, Ibra. Kamu belum menemui Abah sama Enin. Temui mereka sana!" Aku mencoba melepas dekapan pria yang masih memelukku begitu erat sekarang.
Dia akhirnya melepaskan pelukannya meski tampak berat hati dan melihatku. "Gara-gara mau langsung kangen-kangenan sama kamu, malah lupa belum nemui mereka." Dia terkekeh sendiri, sementara aku memutar bola mata karena malas mendengar gombalannya.
Saat aku hendak berbalik meninggalkannya, pria itu menggenggam tanganku. "Ayo kita temui mereka. Temani aku, ya. Aku bawa oleh-oleh banyak soalnya. Nanti susah bawanya."
Aku mendelik padanya. "Nggak usah manja, deh."
Namun, dia tampak tak peduli, malah kembali bergelayut di lenganku. "Karena kamu lagi nggak mau manja-manjaan sama aku, jadi biarin aku yang manja sama kamu sekarang," kilahnya.