Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #25

24. Mengejar yang Seharusnya Dikejar

24. MENGEJAR YANG SEHARUSNYA DIKEJAR

 

"Kamu lapar nggak?" Rinai mendahului langkahku saat kami sudah tiba di depan rumah. Dibukanya pintu yang tidak dikunci itu. "Aku jarang masak selama di sini karena Bibi seringnya yang kasih aku makanan. Paling kalau aku lagi mau apa juga Bibi minta beliin ke pegawainya."

Aku mengikuti langkah istriku itu yang bila aku tak salah ingat, itu obrolan panjang pertamanya setelah aku tiba. Entah dia mungkin lupa atau tidak karena bisa bicara sebanyak itu padaku. "Kamu lapar nggak? Lagi mau makan sesuatu?" Aku malah balik bertanya.

Dia menghentikan langkah dan berbalik tiba-tiba lantas menabrakku. Hampir saja dia terjatuh jika aku tidak menangkapnya. Ya, ini memang akan terlihat seperti adegan di novel, film atau drama romantis, sih. Tak kusangka aku bisa mengalaminya juga. "Hati-hati donk, Sayang," ucapku yang masih memeluknya.

Wanita itu benar-benar terlihat kaget. Matanya mengerjap-ngerjap lucu sekali. Lantas, tanpa memedulikan aku, dia malah memegangi perutnya. "Hampir saja," katanya dengan napas tersengal.

"Kenapa?" Aku heran kenapa dia bisa sekaget itu.

Lantas, dia menggeleng dan kemudian menyadari pelukanku. Wanita itu melepasnya. "Oh, nggak," katanya. Dia kembali berbalik dan melanjutkan langkah. "Aku nggak lapar dan lagi nggak pengen apa-apa. Kalau kamu lapar nanti, kamu bisa minta makanan sama Bibi, ya."

Secepat kilat wanita itu berlalu menuju kamar tengah dan menutupnya. Aku ingin mengejarnya, tapi urung. Kubiarkan dia sendiri dulu untuk saat ini.

Tak lama, dia kembali membuka pintu kamar sedikit hanya untuk berpesan padaku, "Kalau kamu mau istirahat, kamar depan selalu aku bersihkan, kok. Jangan kebablasan sampe Maghrib." Dia kembali menutup pintu sebelum aku sempat merespons apa-apa.

Aku menarik napaa dan mengembuskannya cukup keras. Menyadari bahwa takkan semudah itu membawa dia kembali ke Bogor, membuat kepalaku terasa cukup berat. Selain karena perjalanan jauh yang baru saja kutempuh membuat badan cukup tak keruan rasanya, aku juga harus kembali beradaptasi dengan udara pantai yang panas dan lengket, tidak seperti di Bogor.

Kuputuskan untuk masuk ke kamar yang Rinai maksud. Kamar utama ini cukup luas bila dibandingkan kamar yang Rinai tempati. Ada satu ranjang berukuran besar dengan seprai biru langit yang rapi dan juga lemari baju serta rak kecil untuk menyimpan sajadah, Al-Qur'an dan sebagainya. Terlalu luas rasanya jika ditempati seorang diri.

Dulu, aku sering main di rumah ini. Bahkan, setelah SMP dan SMA, aku biasa memilih tidur di sini sendirian ketimbang di rumah Abah. Aku sering membayangkan seandainya orang tuaku masih hidup, mungkin kami bisa hidup dengan nyaman di rumah ini. Namun, apalah daya, saat itu aku bersikeras membenci jalan hidupku yang harus ditinggal mati kedua orang tua di usia yang masih sangat kecil.

Kini, saat aku tengah mencoba membangun keluarga setelah menemukan jalan hijrah, aku malah belum bisa lagi menggenggamnya secara utuh. Aku kehilangan kepercayaan sebelum sempat merasakan hangatnya sebuah keluarga kecil yang diidamkan banyak orang.

Dia ada di dekatku, tapi rasanya hati wanita itu begitu jauh dan sulit untuk aku jangkau.

"Ibra." Samar-samar aku mendengar suara wanita yang begitu aku rindukan.

Aku ingin membuka mata, tapi kantuk dan lelah begitu kuat mengungkungku sekarang. Sepertinya aku terlelap di atas ranjang yang lama sekali tak aku tempati ini.

"Ibra, bangun!" Suara itu semakin dekat dan aku masih juga enggan untuk sekadar menjawab atau membuka mata. Barulah ketika sebuah tangan menggoyangkan kakiku, perlahan kelopak mata ini bisa terbuka sedikit demi sedikit. "Udah mau Maghrib, lho!" Wajah manisnya begitu jelas terlihat dari tempatku berbaring sekarang.

Yang terjadi sekarang mengingatkanku pada mimpi yang beberapa bulan ini sering hadir di tidurku. Meski tidak sama persis, tapi tetap saja kejadiannya serupa.

"Kok, malah bengong, sih? Aku bangunin kamu dari tadi, lho! Ini udah mau Maghrib. Kamu mau sholat di masjid, kan?" Wanita yang kini mengenakan jilbab instan berwarna hijau army itu menggerutu dengan wajahnya yang menggemaskan.

Lihat selengkapnya