Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #26

25. Terbiasa Sendiri

25. TERBIASA SENDIRI

 

Bukan hal yang mudah bagiku membiasakan kembali kehadiran Ibra di sisiku setelah beberapa bulan ini aku membiasakan diri tanpa dia. Menjadi istri Ibra selama enam bulan sempat membuatku serakah karena menginginkan hatinya juga—selain status, juga hubungan yang kami jalin kala itu. Bahkan, aku sempat menginginkan kebahagiaan—yang jelas-jelas semu—itu bisa kunikmati selamanya.

"Ibu tahu kamu terluka. Tapi, Neng, kamu harus ngobrol sama Ibra. Walau bagaimanapun, Ibra berhak mendapatkan kesempatan dari kamu untuk menjelaskan semuanya."

Aku masih ingat saat aku menghubungi Ibu dan Bapak siang itu, selepas aku pergi dari apartemen Ibra. Ibu tentu terkejut mendengar keputusanku yang akan pergi ke Pangandaran, tapi dia lebih tahu bahwa anaknya ini punya pendirian yang teguh hingga mustahil baginya melarang keberangkatanku.

"Ibumu benar. Kalau ada masalah sama suami itu bukan malah langsung pergi, tapi ya diselesaikan baik-baik. Kalau memang udah nggak ada jalan keluar, ya kamu bisa minta tolong kami buat jadi penengah." Bapak menimpali dengan suaranya yang cukup tegas. "Istri itu harus dapet ridho suami kalau mau pergi, lho. Kamu tahu itu, kan?"

Aku juga tahu, tentu saja. Namun, saat itu yang kupikirkan hanyalah perpisahan. Bahwa setelah aku memergoki semuanya, dan setelah aku melepaskan suamiku itu, kami tentu akan berpisah dan Ibra bebas menjalani kehidupan barunya setelah itu. Maka, kuanggap ridho suamiku tak penting lagi kala itu.

Dan, kenapa aku harus pergi ke Pangandaran?

Entah. Yang terlintas dalam benakku kala itu hanyalah perkataan Bibi Maura. Lalu, aku pun ingin mengasingkan diri ke tempat yang lumayan jauh dari Bogor. Lagi pula, aku ingin bertemu dengan Enin dan Abah karena selain lewat video call, aku tentu belum pernah bertemu mereka sejak sebelum menikah.

Setidaknya, sebelum kami resmi bercerai, atau sebelum aku benar-benar mendapatkan surat dari pengadilan, aku bisa hidup di tempat Ibra pernah tinggal di masa kecilnya. Beruntungnya aku, keluarga Ibra sangat baik dan hangat. Bahkan, tidak sekali pun mereka mempertanyakan kedatanganku yang seorang diri.

Mereka menghiburku saat aku tengah merasa begitu kacau. Belum lagi kondisi kesehatanku yang sempat terganggu kala itu membuat mereka mencurahkan segenap perhatiannya untukku. Aku begitu dimanja di sini. Aku begitu dicintai.

"Aku senang Teteh Rinai kemari, ya walaupun nggak sama A Ibra," celetuk Nispi di suatu senja saat kami tengah memakan camilan sambil menyaksikan debur ombak di area sunset Pangandaran. Angin yang berembus cukup kencang sore itu membuat aku harus berkali-kali membenarkan jilbab yang kupakai. .

Rayhan ikut berseloroh. "Iya, aku juga. Lain kali mah ajak A Ibra ke sini ya, Teh. Suruh jangan kerja terus biar bisa main sama kita di sini."

Aku hanya tersenyum tanpa bisa menjawab atau menjanjikan apa pun pada mereka. Pasalnya, aku pun tak yakin masih bisakah aku melihat Ibra dengan cara yang sama jika suatu saat kami bertemu lagi setelah semua yang terjadi.

Seperti sekarang.

Aku menurut ketika dia memintaku duduk di seberang dirinya yang tengah menyantap mie instan benyek di kursi meja makan. Sebenarnya aku merasa kasihan, juga merasa bersalah melihat dia yang jarang sekali makan mie instan, malah harus menghabiskan mie yang kematangan itu.

Namun, itu tentu bukan salahku sepenuhnya.

Kenapa pula dia berinisiatif menciumku seperti tadi?

Ah, tapi kenapa pula aku malah membalasnya?

"Alhamdulilah." Gegas aku mengambil mangkuknya dan beranjak ke dapur untuk mencucinya.

Namun, dia yang rupanya mengekoriku malah memelukku dari belakang. Gerakanku terhenti. Dadaku berdegup lebih kencang.

Aku masih begitu kecewa padanya, tapi aku juga tak bisa mengabaikan hatiku yang nyatanya masih begitu merindukannya.

"Aku mau cuci piring. Kamu bisa nonton tv sana, biar nggak langsung tidur habis makan," ucapku sambil menahan gugup.

Lihat selengkapnya