Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #27

26. Kembalilah ke Pelukanku

26. KEMBALILAH KE PELUKANKU

 

Aku senang karena Rinai sudah bisa tersenyum lagi padaku meski, ya, beberapa kali dia tampak menahan diri untuk tidak melakukannya. Aku yakin kalau di hati wanita itu masih tersimpan namaku. Jika tidak, mana mungkin tadi malam dia mau menerima ciumanku dengan baik.

“Kamu senang tinggal di sini?” tanyaku saat memperhatikan Rinai yang tengah membantu menata makanan ringan di etalase.

Rinai mengangguk pelan dan menarik kedua bibirnya ke atas sedikit. “Kamu tahu, aku sungguh merasa lebih tenang tinggal di sini ketimbang di kota besar. Aku lebih suka tinggal di rumah ketimbang di apartemen. Meski aku sendirian, tetapi keluargamu memperlakukanku sangat baik.”

Tidak berniat ikut membantunya melakukan pekerjaan, aku hanya berdiri di sampingnya sambil memasukkan kedua tangan di saku celana. “Apa aku harus meninggalkan semua pekerjaanku di Bogor dan pindah ke sini?”

Wanita pemilik smiling eyes itu terkekeh pelan. “Kamu tahu, sebelum aku kemari, aku sudah akan resign dari kantor. Di sana juga aku memang tengah mempersiapkan diri untuk memulai usaha agar bisa tetap aktif dan produktif nantinya. Dan setelah di sini, aku semakin tahu apa yang aku inginkan. Aku sangat senang bisa membantu Bibi Maura di restoran ini.”

“Ake senang mendengarnya, sekaligus sedih. Kamu bahagia di sini, tapi tanpa aku,” gumamku dengan wajah menunduk. "Asal kamu tahu, apa pun yang ingin kamu lakukan setelah kita kembali ke Bogor nanti, aku akan mendukungmu penuh. Jika kamu mau buka usaha seperti ini di sana, aku akan mempersiapkan semuanya untukmu."

Namun, dia malah menggeleng pelan dengan senyuman getir yang menghiasi paras cantiknya. “Aku lantas berpikir, apa mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama? Apa kita memang tak akan pernah bisa bersatu? Nyatanya, kita berdua masih hidup dengan baik selama berpisah, kan?”

“Kamu sungguh-sungguh berpikir seperti itu?” tanyaku sedih.

Aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikirannya. Kenapa dia jadi seperti ini? Bukankah wanita ini adalah wanita yang sama dengan wanita yang mencintaiku selama bertahuntahun? Bukankah wanita ini yang mengatakan kalau dia akan terus mencintaiku meski aku tak membalasnya? Tapi apa sekarang?

Nyatanya, dia tak menjawab pertanyaanku barusan. Ia langsung melengos ke dapur dan menghampiri Bibi Maura dan pegawainya yang tengah menyiapkan beberapa bahan makanan. Satu per satu pengunjung pun berdatangan.

Restoran ini memang terletak di pinggir jalan raya yang menuju ke Pantai Pangandaran dan memang selalu ramai pengunjung, apalagi jika dalam masa liburan. Bibi menerukan usaha Abah Enin ini semenjak aku masih remaja. Mamang Salim sendiri bekerja di Dinas Pariwisata Kabupaten Pangandaran sejak lama.

Mendengar Rinai merasa betah tinggal di kampung halamanku, aku sempat langsung berpikir untuk pindah kemari dan hidup selamanya di sini. Namun, saat dia bilang bahwa dirinya bisa hidup dengan baik meski tanpa aku, hati ini rasanya seperti diremas dengan sangat keras.

Apakah kesalahpahaman yang terjadi antara Rinai dan aku akan bisa dienyahkan hingga membuat wanita itu mau kembali padaku? Bagaimanapun, aku tak rela jika dia pergi seperti ini dari hidupku. Aku ingin dia kembali.

“Ibra, aku antar pesanan dulu, ya?” ujar Rinai menghampiriku yang tengah memandanginya dari kursi pengunjung sedari tadi. Di mana ada Rinai, aku sama sekali tak bisa mengalihkan pandangan darinya.

“Aku antar, ya?” tawarku sambil berdiri di hadapannya.

Lihat selengkapnya