Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #28

27. Menggapai Kembali Kepercayaan

27. MENGGAPAI KEMBALI KEPERCAYAAN

 

"Rinai, kamu mau, kan, kembali padaku? Kamu mau memaafkanku, kan? Kamu percaya padaku, hm?" Pertanyaan-pertanyaan Ibra itu tak lekas aku jawab. Bukan tak mau, tapi rasanya aku masih perlu waktu untuk mencerna semuanya.

Jauh di lubuk hatiku yang terdalam, ada satu keyakinan yang mengatakan bahwa Ibra tidak mungkin berbuat serendah itu dengan berhubungan diam-diam di belakangku, terlebih sampai melakukan kontak fisik dengan intim. Namun, beberapa fakta yang aku tahu justru mematahkan keyakinan itu sendiri.

Reysa adalah cinta pertama sekaligus satu-satunya wanita yang Ibra cintai selama bertahun-tahun. Karena kepergian Reysa, Ibra mengalami patah hati yang hebat. Dan, Ibra menyembunyikan kedatangan kembali Reysa ke Kota Hujan dariku, serta kedekatan mereka saat aku memergokinya di ruangan Ibra hari itu.

Jika sudah begitu kenyataannya, bagaimana aku masih bisa percaya semua yang Ibra katakan tentang perasaannya?

Bukan tak ingin aku memberinya kesempatan kedua, tapi aku takut dikecewakan oleh harapanku sendiri nantinya.

Selama di sini, jauh dari Ibra, aku pun belajar lebih banyak. Bahwa ternyata, berharap pada manusia memanglah keliru. Ketika kita menaruh harapan begitu tinggi pada seseorang, yang kita lakukan memang harus siap menelan kekecewaan.

Maka, selama di sini, aku belajar memasrahkan semuanya pada Allah. Biar Allah yang menuntunku dan memberiku jawaban tentang apa yang harus aku putuskan.

"Kamu mau, kan, memberiku kesempatan, Sayang?" Ibra bertanya lagi dengan sorot mata yang begitu sendu, yang nyatanya memang jarang sekali aku lihat darinya.

Aku memberanikan diri untuk mengangkat tanganku dan mengusap air di sudut-sudut matanya. "Kenapa kamu nggak memilih menyerah dengan pernikahan kita?" tanyaku parau. Tak tega rasanya melihat Ibra sesedih ini. Dadaku terasa diremas. Tenggorokanku tercekat.

Dia menggeleng cepat. "Denganmu, aku menemukan arti rumah yang sebenarnya. Denganmu, aku tahu arti pulang yang sesungguhnya. Denganmu, aku mendapatkan pengertian bagaimana keluarga yang kuinginkan dalam hidup. Bagaimana mungkin aku memilih menyerah?"

Debur ombak yang menghantam karang-karang yang membentuk dinding yang menjulang tinggi menjadi saksi bagaimana kami berhadapan dengan ekspresi lelah dan sedih. Semilir angin yang menerpa wajah kami tak mampu menghalau segala ragu dan bimbang yang bercokol dalam hati dan pikiranku.

"Lalu, Reysa ...? Apa artinya dia bagimu?" Aku mencoba mengungkit nama itu lagi. "Bukankah dia wanita yang kamu cintai bertahun-tahun lamanya? Bukankah kedatangannya begitu kamu nanti selama ini? Ibra, bagaimana aku bisa tahu kalau selama aku di sini kamu tak pernah berhubungan lagi dengannya?"

Ibra tampak frustrasi. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. "Rinai, sayangku, cintaku, asal kamu tahu, segala tentang Reysa hanyalah kesalahpahaman. Aku dengan sangat yakin akan memberimu bukti bahwa semua yang kamu pikirkan itu keliru. Hanya saja, beri aku waktu sedikit lagi. Ya?"

Aku tak bisa mengiyakan, tidak juga menolak. Aku hanya bergeming saat dia kembali memelukku. Entah berapa pasang mata yang memerhatikan kami, tapi Ibra seolah tidak peduli.

Suasana hatiku belakangan memang benar-benar kacau. Sebentar membaik, sebentar bisa memburuk. Terlebih jika aku mengingat soal Reysa, kekecewaanku pada Ibra bisa tiba-tiba memuncak. Namun bila tidak, aku bisa memikirkan untuk memberinya kesempatan.

Lihat selengkapnya