28. KEJUTAN TAK DIDUGA
Pernahkah kamu tidur dengan perasaan yang kacau? Meski mata terpejam dan raga seolah tertidur, tetapi pikiran kita rasanya bekerja ekstra entah karena apa.
Semalaman aku merasa tidurku amat sangat tidak berkualitas. Meski semenjak Rinai meninggalkanku tiga bulan lalu aku kesulitan untuk tertidur, tetapi yang tadi malam aku dapati adalah tidur terburukku selama ini.
Wanita yang kucintai dan kurindukan itu ada di sisiku. Setelah sekian lama ... kami bisa tidur bersama dalam satu ruangan—satu ranjang tepatnya, tetapi tiba-tiba saja aku merasa kami terpisah jarak yang begitu jauh. Jangankan untuk merengkuh, sekadar menyentuhnya pun aku tak mampu.
Mungkin saja penyebab kacaunya tidurku malam tadi adalah karena perkataan Rinai yang terkesan begitu menyudutkanku dan merendahkan dirinya sendiri. Nyatanya, dia menganggap dirinya sebagai pelampiasan saja di mataku.
“Nak Ibra ....” Aku menoleh saat mendapati Bapak tengah menghampiriku yang sedang meregangkan otot sembari menghirup udara pagi yang mendung di halaman depan rumah yang memang luas.
“Eh, Bapak? Bagaimana tidurnya semalam, Pak? Nyenyak? Maaf kalau saya kurang menyambut Bapak dan Ibu karena saya nggak tahu kalau kalian akan kemari,” ujarku merasa bersalah. Beliau lantas tersenyum sambil menggeleng, seolah memberiku jawaban kalau itu tak masalah. Bapak pun berdiri di sampingku.
“Yang sabar ya, Nak Ibra ....” Tiba-tiba saja Bapak mengatakan satu kalimat itu—yang aku yakini itu keluar dari dasar hatinya terdalam karena seketika, perasaanku yang sejak semalam begitu berat dan dingin, kini terasa lebih ringan dan hangat.
Aku mencoba mengangguk meski hatiku memang terasa begitu berkecamuk sebelumnya. Begitu sulit rasanya membujuk Rinai atau bahkan hanya sekadar meyakinkannya jika semua yang dia tuduhkan padaku benar-benar hanya ada dalam pikirannya saja.
“Ini memang salah saya, Pak. Saya yang nggak bisa meyakinkan Rinai saat itu bahwa dia adalah wanita yang berarti buat saya. Karena itu, dia pergi sebelum tahu semua kebenarannya. Sekarang, saya memang masih memikirkan cara untuk membujuknya kembali meskipun ... rasanya sungguh berat,” paparku pada ayah mertua.
Aku mengepalkan tangan saat menoleh ke belakang dan mendapati Rifky tengah mengobrol dengan Rinai di teras sembari mendengar penuturan Bapak. Beliau memang tahu permasalahan yang tengah aku hadapi bersama anaknya itu, juga Ibu. Saat aku akan datang ke sini dan menyusul Rinai untuk menjemputnya, aku pamitan pada mereka dan meminta doa serta restu.
Hatiku rasanya ingin marah, tetapi bukan pada siapa pun. Aku ingin marah pada keadaan. Kenapa semuanya harus runyam seperti ini? Kenapa Rinai harus tahu soal Resya di saat aku belum memberitahu kenyataan yang sebenarnya pada wanita yang sudah aku nikahi itu? Lalu, kini ada Rifky yang memang terlihat begitu dekat dengan wanita itu.
Bapak terkekeh pelan dan aku merasa heran karenanya. "Wajar jika kamu cemburu melihat kedekatan mereka. Tapi Nak Ibra juga tahu kalau mereka memang dekat sedari kecil. Lagi pula, meski sempat melamar Rinai, Rifky menganggap Rinai seperti adiknya sendiri. Rinai juga sudah mengunci hatinya sejak lama buat kamu."
Aku tersenyum salah tingkah mendengar penuturan Bapak karena rupanya beliau bisa melihat gelagat kecemburuanku saat ini. Walau aku sudah tahu fakta yang Rifky ceritakan saat itu, tetap saja aku tak suka istriku begitu dekat dengannya—terlebih saat hubungan kami sedang tidak baik-baik saja seperti sekarang.
"Bapak harap, kamu bisa mengambil hati Rinai kembali. Dia hanya perlu keyakinan bahwa dia memanglah kebahagiaan kamu,” tutup Bapak sebelum berlalu dan meninggalkan senyuman serta tepukan pelan di bahuku.
Gerimis mulai berdatangan setelah Bapak meninggalkanku dengan pikiran yang kembali berkecamuk. Di bawah tetesan air hujan pertama yang aku dapatkan sejak tiba di desaku ini, aku merenungkan kembali semuanya.
Betapa sulit rasanya membawa Rinai kembali ke dalam pelukanku. Namun, akankah aku menyerah semudah ini?