Mencintaimu Laksana Hujan

Tiara Purnamasari
Chapter #30

29. Mengejar Pengampunan

29. MENGEJAR PENGAMPUNAN

 

“Biarkan dia sendiri dulu,” cegah Rifky saat aku akan menyusul Rinai.

“Diam kamu! Kamu nggak berhak melarangku untuk menyusul istriku sendiri. Dia akan semakin salah paham jika aku biarkan sendiri. Aku tahu dia seperti apa. Memangnya siapa kamu berani-beraninya melarangku?” cercaku dengan nada tinggi. Aku sungguh dibuat naik pitam oleh tingkahnya. Bisa-bisanya dia merasa sok kuasa.

“Aku memang bukan suami Rinai, tapi aku sepupunya sedari kecil. Aku juga tahu dia seperti apa. Dan lagi, aku calon suami Reysa jika kamu ingin tahu,” pungkasnya dengan nada bangga.

“Apa? Kamu calon suami Reysa?” Aku tak bisa menutupi keterkejutanku kali ini.

Dia mengangguk mantap.

Aku menoleh pada Reysa, dia pun ikut mengangguk sambil meringis. “Jadi, kamu ke sini karena Rifky?”

Reysa mengangguk lagi. “Iya, aku memang ikut bersama dia dan orang tua RInai kemarin. Hanya saja, aku kemarin memang tinggal di hotel karena kami harus mempersiapkan segalanya untuk bertemu Rinai. Dia pasti salah paham lagi, kan? Maaf, Ibra.”

Aku mengusap wajahku frustrasi. Kabar ini memang kabar bahagia, tetapi karena momen kedatangan Reysa tidak tepat, tetap saja malah menimbulkan masalah baru untukku dan juga Rinai.

“Iya, aku akan menjelaskan semuanya pada Rinai nanti. Sekarang, biarkan dia sendiri dulu,” tukas Rifky sambil menepuk pelan bahuku.

Aku memandangnya, kali ini tidak dengan tatapan tak suka karena hatiku setidaknya sudah merasa lega saat mengetahui bahwa lelaki itu sudah melamar Reysa dan pasti sudah tidak menginginkan Rinai lagi.

“Aku khawatir Rinai akan pergi jauh.” Embusan napas kasar keluar dari mulutku, aku melangkah menuju meja makan dan mendapati Ibu Bapak yang tengah menatap iba padaku.

“Bapak Ibu sudah tahu semua ini? Kenapa nggak bilang sama saya?” tanyaku parau.

Mereka mengangguk. “Bapak hanya ingin lihat dulu seberapa kuat usaha kamu untuk mendapatkan Rinai kembali,” ujar pria paruh baya itu sambil mengusap punggung tanganku.

“Tenanglah, Nak. Semuanya pasti akan baik-baik saja.”

Aku kembali menghela. “Saya takut Rinai tak mau memberikan kesempatan kembali untuk saya.”

Lihat selengkapnya