30. HADIAH YANG MANIS
Selama ini, aku pikir akulah yang terluka paling hebat di kisah ini. Aku pikir, akulah yang paling hancur. Aku pikir, aku yang paling merana.
Nyatanya, Ibra juga merasakan penyesalan yang besar dan duka yang dalam karena kepergianku.
Jika saja Reysa tak mengajakku berbicara tadi, mungkin aku takkan tahu ceritanya dari sudut pandang dia dan juga Ibra. Bisa saja aku tetap mencoba memaafkan dan menerima Ibra kembali setelah kecelakaan ini tanpa tahu kebenaran semuanya.
"Rinai, bisa kita bicara sebentar?" Tadi, Reysa mendekat saat aku masih menunggu Ibra sadarkan diri. Dia yang ditemani Rifky tampak sedang berusaha untuk membuatku mau berbicara dengannya. Entah perasaanku atau bukan, kulihat mereka tampak akrab dan dekat.
Aku menoleh pada Bibi yang nyatanya mengangguk sambil menatapku. "Pergilah. Bibi akan tunggu di sini. Kalian memang harus bicara," tutur Bibi sambil mengusap kepalaku yang terbalut jilbab merah bata.
Kami lantas berjalan bertiga menuju kantin rumah sakit dan duduk setelah menemukan bangku kosong di dekat jendela. Aku tak memesan apa pun karena tak berselera untuk makan. Rifky membelikanku sebotol air mineral, juga untuk Reysa. Bahkan, kakak sepupuku itu juga membukakan tutup botol untuk Reysa.
"Kamu sempat sarapan di hotel, kan, tadi?" Rifky bertanya pada Reysa dan wanita bermata sipit itu mengangguk.
"Udah, kok," jawabnya sambil tersenyum kikuk ke arahku.
Karena rasa penasaran yang memenuhi kepalaku saat itu, maka aku pun memberanikan diri bertanya—meski ya, aku bisa saja dibilang kepo. "Kalian saling mengenal?" Aku hanya ingin memastikan.
Kali ini, Rifky yang mengangguk. Tapi kemudian, Reysa yang menjawab, "Kami akan menikah beberapa bulan lagi."
Tentu aku tak bisa menutupi keterkejutanku mendengar kabar—yang seharusnya membahagiakan—ini. Namun, ada satu sudut di hati kecilku yang berprasangka buruk. Apa mereka melakukan sandiwara ini untuk menutupi hubungan Reysa dan Ibra di belakangku? Ah, rasanya aku terlalu mendramatisir.
"Ekspresi kamu sama dengan ekspresi suami kamu saat tahu kabar ini tadi. Persis." Pernyataan Rifky membuatku semakin membeliak.
"Jadi Ibra juga baru tahu soal ini?" Mereka yang kutatap satu per satu mengangguk yakin. "Sejak kapan kalian dekat dan memutuskan untuk menikah? Bukankah Reysa—" Aku menggantung kalimatku karena khawatir jika menanyakan perihal perbedaan keyakinan pada mereka itu akan menyinggung salah satu atau keduanya.
Reysa tersenyum. "Nggak apa, kok. Aku paham maksud kamu." Lalu, mulailah wanita itu bercerita tentang pertemuannya dengan Rifky saat dia akan menemuiku di rumah Ibu dan Bapak untuk menjelaskan kesalahpahaman itu. Dia juga menceritakan bagaimana Rifky dan dirinya bisa jadi dekat, nyaman satu sama lain hingga Reysa yang akhirnya muallaf karena tertarik dengan Islam setelah bertemu dengan orang tuaku, juga lamaran Rifky.